Pemula Wajib Tahu! Berikut Cara Budidaya Belut Yang Mudah Diterapkan

  • by

Cara Budidaya Belut – Belut merupakan salah satu binatang air yang digolongkan dalam kelompok biota air. Berbeda dengan jenis ikan kebanyakan, belut mampu bertahan hidup dalam lumpur dengan sedikit air. Mengingat cara hidupnya yang kuat, tentunya hal ini bisa dibudidayakan dengan mudah. Lantas bagaimana cara budidaya belut? Berikut tips dan trik yang bisa diterapkan.

budidaya belut

Membuat Kolam atau Media Untuk Pembibitan Belut

Memilih Media yang Tepat Untuk Pembuatan Kolam

Media Kolam drum menjadi salah satu yang paling ampuh untuk budidaya hewan ini. Kolam yang disebut dengan semi permanen ini bisa mudah didapatkan di toko terdekat.  Meskipun semi permanen karena masa pemakaian kurang awet, masih banyak pebisnis yang menggunakan media ini untuk digunakan sebagai media utama

Hal tersebut dikarenakan kolam drum memiliki harga yang lebih terjangkau daripada media yang lainnya. Bagi Anda yang masih pemula, media ini menjadi yang paling tepat untuk dipilih karena segi biaya dan tempat tidak terlalu banyak. Menentukan media kolam yang terbaik sangat krusial bagi keberlangsungan budidaya ternak belut yang akan dilakukan.

Selain drum. Anda juga bisa menggunakan kolam terpal, tong atau kontainer plastik sebagai media kolamnya. Tetapi jika Anda menggunakan drum, ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan Anda dalam melakukan pembibitan di langkah berikutnya. Selain itu, kolam yang akan membuat belut bertahan hidup selama dibudidayakan.

budidaya belut di drum

Membuat Lubang Di Bagian Atas Drum

Setelah memilih drum sebagai media kolam, Anda harus melakukan step selanjutnya. Salah satunya yaitu membersihkan drum yang akan dipakai tanpa menyisakan kotoran sedikit pun. Bersihkan semua bagian yang ada di drum, mulai dari bagian dalam hingga luarnya. Hal ini sangat penting untuk ternak belut yang akan Anda lakukan.

Jika sudah melakukan langkah tersebut, Anda bisa membuat lubang memanjang di bagian atas drum yang sudah dibersihkan sebelumnya. Selain itu, Anda juga harus menyimpan drum di tanah yang datar. Agar tidak menggelinding dan terguling, maka sebaiknya berikanlah pengganjal di bagian kanan dan kiri drum.

Buatlah juga saluran pembuangan di bagian bawah drum dan peneduh di bagian atas kolam drum. Pembuatan peneduh ini bertujuan sebagai pelindung kolam. Tidak hanya itu saja peneduh juga bisa melindungi belut dari sengatan cahaya matahari yang terlalu terik dan juga curah hujan yang terlalu intens.

Membuat Media Pertumbuhan Belut

Selain menyiapkan kolam dan pelindung dari cuaca, Anda juga harus menyiapkan media lainnya untuk pertumbuhan belut. Langkah ini bisa dimasukkan ke dalam kolam drum sebagai medianya. Agar belut bisa tumbuh dengan tepat, maka Anda juga harus menentukan komposisi medianya dengan pas.

Secara umum, komposisi media tumbuh terdiri dari beberapa bahan. Bahan bahan tersebut terdiri dari pupuk TSP, lumpur kering, mikroorganisme starter, dan kompos. Media tumbuh ini harus dicampur dengan takaran yang pas dan diletakkan di dalam kolam drum. Setelah itu, Anda bisa meletakkan di dalam kolam drum untuk melakukan langkah berikutnya.

Mengalirkan Air

Jika sudah menyiapkan media kolam belut untuk tumbuh, maka langkah selanjutnya yaitu mengalirkan air bersih. Sebaiknya air dialirkan selama 3 hingga 4 hari pada media tumbuh yang telah disiapkan. Hal tersebut bertujuan untuk membersihkan media dari racun dan lain sebagainya. Jangan lupa untuk menyetel besar debit air dengan aliran sedang agar tidak erosi.

Langkah terakhir, Anda bisa menggenangi media tumbuh tersebut dengan air bersih yang mengalir. Untuk kedalamannya juga harus diperhatikan, kurang lebih berukuran 5 cm dari permukaan. Pada kolam tersebut juga bisa diberikan tanaman air seperti enceng gondok sebagai pelindung. Tetapi ingat, jangan memberikan terlalu padat.

Menentukan Bibit Belut yang Berkualitas

Memilih Bibit yang Dibudidayakan

Aspek yang paling penting dalam ternak belut yaitu bibit yang digunakan. Hal ini menjadi faktor penentu keberhasilan budidaya belut yang akan dilakukan kemudian. Umumnya, bibit belut yang ada hingga kini sebagian besar merupakan hasil tangkapan alami. Karena itu, penangkapan bibit dari alam akan menentukan kualitas bibit.

Bibit yang ditangkap secara alami menggunakan perangkap bubu menjadi bibit yang bisa dipilih karena tidak mengalami perlakuan yang menurunkan kualitasnya. Sebaliknya, bibit yang didapat dari cara yang kurang baik, seperti disetrum akan membuat kualitas menurun. Sebab, bibit tersebut akan membuat pertumbuhan belut tidak maksimal alias kuntet.

Lebih baik jika bibit yang digunakan berasal dari hasil budidaya atau ternak. Ukurannya akan lebih serasi dan jarang terserang penyakit seperti yang didapat dari hasil tangkapan di alam. Sayangnya, cara budidaya belut dengan benih ternakan masih sulit ditemukan karena masih sedikit yang menerapkannya. Jadi lebih baik untuk melakukan pembenihan belut dengan cara sendiri.

budidaya belut air bersih

Bibit yang Akan Digunakan Harus Sehat dan Tidak Ada Luka

Luka pada bibit belut bisa terjadi akibat disetrum, perlakuan kasar, atau pukulan benda keras. Umumnya, bibit yang diperoleh cirinya tidak dapat langsung terlihat, tetapi bisa diketahui setelah 10 hari. Salah satunya terdapat bintik putih seperti garis di permukaan tubuh yang lama kelamaan memerah. Hal ini akan membuat pertumbuhannya tidak maksimal.

Ukuran Bibit yang Seragam

Bibit harus dimasukkan ke dalam wadah pembesaran ukurannya harus sama agar menghindari kanibalisme. Jika memilih bibit yang berasal dari tangkapan alam, maka sebaiknya harus disortir dan dikarantina terlebih dahulu. Tujuan proses ini untuk menghindari serangan bibit penyakit yang mungkin terbawa dari kolam atau tempat pemeliharaan sebelumnya.

Tingkat Kepadatan

Agar pertumbuhan belut lebih optimal, selain media dan kualitas bibit Anda juga harus memperhatikan kepadatan pemeliharaannya. Media yang terlalu padat akan membatasi ruang gerak belut. Sehingga hal tersebut akan menyebabkan belut stres dan akibatnya pertumbuhan belut menjadi tidak optimal dan kuntet.

Proses Pemijahan Belut yang Bisa Diterapkan

Membuat Tempat Untuk Pembenihan

Media pembenihan ini harus dipersiapkan dengan masa pemeliharaan dari induk belut. Pasalnya, media pembenihan belut ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bahan yang dibutuhkan untuk membuat media pembenihan ini meliputi, lumpur, pupuk kandang, jerami, pelepah pisang, dekomposer, lumpur dan pupuk kandang yang difermentasikan.

Pada bagian bawah kolam harus diletakkan jerami setinggi kurang lebih 10 hingga 15 cm. Kemudian masukkan pupuk kandang dengan ukuran 10 sampai 15 cm dan dilapisi pelepah pisang setinggi 10 cm. Langkah selanjutnya, masukkan larutan biodekomposer atau disebut dengan EM4 dan tutup rapat hingga sebulan. Jika sudah sebulan, masukkan lumpur setinggi 10 – 15 cm.

Cara budidaya belut berikutnya, Anda harus menambahkan air dengan ukuran setinggi 5 sampai 10 cm, lalu diamkan kembali selama sekitar dua minggu. Apabila ingin memastikan media sudah siap digunakan atau belum, maka Anda bisa melakukan beberapa hal. Salah satunya yaitu tusuk media dengan menggunakan bambu, jika muncul busa dan menyengat berarti sudah siap digunakan.

cara budidaya belut dalam kolam

Menyiapkan Induk Belut yang Siap Pijah

Jika sudah menyiapkan media, selanjutnya Anda bisa melakukan penyeleksian induk belut. Anda harus bisa membedakan induk jantan maupun betina dengan melihat ciri cirinya. Pejantan belut umumnya memiliki warna kulit yang cenderung gelap dengan bentuk kepala tumpul. Panjangnya kurang lebih 30 cm hingga 40 cm jika diukur.

Sedangkan indukan belut akan memiliki warna kulit yang lebih cerah dibandingkan dengan jantan. Bentukan kepalanya lebih kecil dan runcing dengan panjang tubuh lebih pendek. Pastikan indukan belut diseleksi terlebih dahulu untuk dijadikan induk. Selain itu, Anda juga harus memastikan indukan terbebas dari memar, tidak terluka serta tidak sakit.

Pemijahan Benih

Jika indukan sudah diseleksi dan media juga sudah siap, maka selanjutnya Anda bisa tebar dan pemijahan indukan untuk menghasilkan anakan. Jika menggunakan drum plastik yang dipotong menjadi 2, Anda bisa menebar indukan dengan perbandingan 1 jantan: 5 betina. Akan tetapi jika median lebih besar, Anda bisa menyelesaikannya dengan kebutuhan.

Selama pemijahan, indukan harus diberi pakan yang tepat berupa potongan keong mas, bekicot dan ikan kecil. Setelah 2 minggu Anda bisa mengecek medianya, apakah induk belut sudah memijah atau belum. Hal yang bisa dilakukan yaitu dengan cara menusuk media menggunakan ranting  atau bambu ke dalam media tersebut.

Apabila muncul satu gelembung bersih, maka indukan sudah mulai memijah. Akan lebih baik jika Anda tancapkan ranting tersebut pada beberapa titik yang ada di kolam. Gelembung gelembung yang muncul tersebut merupakan pertanda pemijahan telah berlangsung. Agar hasilnya optimal, biarkan selama 1 minggu sampai media pemijahan dibongkar.

Pemisahan Benih dan Indukan

Pemisahan benih belut dengan indukan ini dilakukan dengan mengeluarkan media lumpur dari tempat pemijahan. Selanjutnya Anda harus menangkap benih yang ada. Jika sudah terkumpul, maka Anda harus mencuci benih tersebut agar terbebas dari kotoran pada media sebelumnya. Kemudian, masukkan ke tempat pemeliharaan benih belut yang sudah disiapkan.

Tempat pemeliharaan benih tersebut bisa bervariasi, tergantung dengan media yang ingin Anda pilih. Cara budidaya belut bisa dilakukan dengan memilih beberapa media, mulai dari kolam beton, kolam terpal, atau yang lainnya. Namun, jangan lupa untuk menambahkan pelepah pisang agar benih bisa bersembunyi dan terhindar dari bahaya sinar matahari.

cara budidaya belut di air jernih

Proses Pembesaran Bibit Belut

Ketika belut sudah berukuran lebih dari 8 cm, maka kepadatan kolam harus ditentukan dengan takaran 100 ekor per meternya. Setelah belut mencapai ukuran 15 cm, maka  kepadatan kolam yang harus Anda persiapkan yaitu sekitar 25 ekor per meternya. Untuk pakan yang bisa Anda berikan pada tahapan ini bisa berupa pelet, kecebong, cacing, dan ulat.

Setelah mencapai umur 3 bulan, belut sudah masuk pada tahap berikutnya untuk dipanen. Pada tahap ini, hal yang harus Anda perhatikan yaitu ukuran belut dan pasokan makanan yang tidak boleh kurang. Hal ini harus dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya kanibalisme antar belut. Selain itu, Anda juga harus memperhatikan nutrisi yang tepat agar dapat tumbuh optimal.

Pakan yang Harus Diberikan Pada Belut

Keong Mas atau Keong Sawah

Keong mas ini mudah ditemukan di sawah atau perairan tawar lainnya, seperti danau, sungai dan lainnya. Keong ini memiliki kandungan gizi yang tinggi, mulai dari protein, kalsium, dan rendah kolesterol. Sisanya yaitu mengandung karbohidrat, fosfor dan energi. Untuk memberikan pakan ke belut Anda harus memotong kecil dan menabur di saluran air.

Cacing Tanah

Cacing tanah menjadi salah satu pakan alami terbaik untuk belut yang memiliki nilai protein tinggi. Cacing tanah jenis lumbricus rubellus bisa diberikan ke belut dengan cara dipotong potong atau digunting agar tidak terlalu besar. Taburkan pakan ini tepat di kemalir atau saluran air ada kolam belut. Hal ini bertujuan agar belut lebih mudah menemukan makanannya.

Bekicot

Bekicot merupakan jenis siput darat yang bisa didapatkan dengan mudah karena ketersediaannya sangat melimpah. Bekicot juga menjadi jenis pakan belut yang baik dengan kandungan gizi yang sangat tinggi, protein, lemak, karbohidrat, fosfor dan kalsium. Untuk memberikan pakan ini, Anda bisa memisahkan dari cangkangnya dan dipotong kecil kecil.

pakan belut

Jasad Renik

Jasad renik atau yang lebih dikenal dengan plankton ini dihasilkan dari proses fermentasi dan pengolahan media belut yang subur. Hal ini yang menyebabkan cara budidaya belut dengan media lumpur lebih efisien dari segi pakan. Karena cadangan pakan alami sudah sangat melimpah. Plankton memiliki protein yang tinggi, sehingga dapat membuat perkembangan belut lebih cepat.

Masa Panen Belut

Sebenarnya tidak ada patokan khusus seberapa besar ukuran belut siap konsumsi. Tetapi, secara umum pasar domestik biasanya lebih berminat pada belut berukuran lebih kecil. Sedangkan pasar ekspor lebih berpatokan pada ukuran yang lebih besar. Untuk pasar domestik, biasanya lama pemeliharaan pembesaran belut berkisar 3 hingga 4 bulan.

budidaya belut sawah

Sedangkan untuk pasar ekspor biasanya akan berlangsung dalam waktu 3 sampai 6 bulan. Bahkan waktu tersebut bisa lebih sejak bibit ditebar, tergantung dari pemberian pakan dan media yang digunakan. Untuk memanennya pun ada dua cara yang bisa dilakukan, mulai dari panen sebagian dan panen total.

Panen sebagian dapat dilakukan dengan cara memanen semua populasi belut. Kemudian belut yang masih kecil harus dipisahkan untuk dipelihara kembali. Sedangkan pemanenan total umumnya dilakukan pada budidaya belut intensif yang pemberian pakan dan metode budidaya dilakukan secara cermat. Sehingga belut yang dihasilkan lebih seragam dalam segi ukuran.

Pengendalian Penyakit Pada Belut

Meskipun dapat bertahan di beberapa kondisi tertentu, tetapi belut juga rentan terkena penyakit atau hama yang membuat tubuhnya kurang sehat. Kematian awal biasanya disebabkan oleh media budidaya belut yang belum sempurna dan benih yang didapat bukan hasil pembenihan tetapi hasil tangkapan dari alam.

Selain itu, ada juga karena faktor hama seperti serangga, katak, dan burung. Maka dari itu penting untuk membuat jebakan atau lampu di sekitar kolam belut. Beberapa penyebab lainnya karena protozoa, jamur, virus, dan bakteri. Hal ini bisa timbul karena pemberian pakan yang kurang baik dan kondisi lingkungan yang terlalu ekstrem.

Pengendalian cara budidaya belut ini bisa dilakukan dengan perendaman, pakan atau penyuntikan. Jika terdapat belut yang sakit, ada baiknya untuk memisahkan dari lainnya. Sedangkan jika nafsu makan masih baik, Anda bisa memberikan obat yang bisa dimakan. Namun, bila dua cara tersebut belum menyembuhkan, maka memberikan suntikan obat pada belut.

Sebelum melakukan budidaya ternak belut, maka lebih baik untuk mengetahui pangsa pasar yang ingin dituju. Jika Anda ingin membidik pasar domestik, ukuran belut bisa dibudidayakan kurang lebih 3 sampai 4 bulan saja. Tetapi jika ingin merambah pasar internasional, maka ukurannya lebih besar dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *