Nutrisi Hidroponik: Rahasia Keberhasilan Budidaya Hidroponik

  • by

Budidaya hidroponik sangat cocok untuk diterapkan pada masa kini. Budidaya ini hanya memerlukan air dan pemberian nutrisi hidroponik untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, bercocok tanam dengan sistem hidroponik tidak harus memiliki lahan yang luas. Penanamannya bisa dilakukan di lahan sempit, seperti di pekarangan atau teras rumah. Hidroponik pun menjadi alternatif untuk meningkatkan produktivitas tanaman meskipun terkendala lahan yang terbatas.

Sebenarnya, cara bercocok tanam hidroponik telah ada sejak ribuan tahun lalu. Pengaplikasian teknik hidroponik di mulai di Babylon yang dibuktikan dengan ditemukannya taman gantung dan taman apung. Pada tahun 1930, William Frederick Gericke, mempelopori sistem hidroponik yang menggunakan air dengan kandungan nutrisi dan mineral sebagai pengganti tanah. Lalu pada tahun 1960-1970 para peneliti melakukan media alternatif (subtrat) yang menggunakan media padat selain tanah, tetapi dapat menyediakan nutrisi, air, dan oksigen serta mendukung akar tanaman seperti halnya fungsi tanah.

Rahasia Keberhasilan Budidaya Hidroponik

Sementara itu, di Indonesia pengembangan budidaya hidroponik dipelopori oleh Bob Sadino. Kemudian sistem ini semakin berkembang karena keinginan masyarakat untuk bercocok tanam sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias, tetapi terkendala oleh lahan yang terbatas. Terlebih di daerah perkotaan yang memiliki perkembangan industri yang pesat.

Kegiatan industri telah menggusur lahan pertanian sehingga membuat lahan semakin sempit. Padahal kebutuhan akan hasil pertanian semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang juga meningkat. Alasan ini membuat para petani ataupun masyarakat biasa harus mampu berinovasi untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satu caranya ialah menerapkan sistem bercocok tanam hidroponik di lahan pertanian yang sempit maupun hanya sebatas di area rumah.

Banyak kelebihan yang didapatkan ketika melakukan penanaman secara hidroponik jika dibandingkan dengan cara konvensional. Berikut kelebihan dari sistem penanaman hidroponik.

  • Pengerjaannya tidak harus pada lahan yang luas, dapat dilakukan pada lahan terbatas.
  • Pertumbuhan tanaman dapat lebih mudah dikontrol karena terjangkau dari pandangan
  • Pemberian nutrisi lebih efisien karena disesuaikan dengan kebutuhan tanaman
  • Bebas dari gulma dan jarang terserang hama serta penyakit. Bahkan, dapat terhindar juga dari faktor permasalahan akibat kondisi alam.
  • Nilai jualnya lebih tinggi karena kualitasnya pun lebih tinggi
  • Beberapa jenis tanaman tertentu juga dapat dibudidayakan di luar musimnya

Selain kelebihannya tentu juga perlu mengetahui kekurangan dari sistem penanaman hidroponik. Berikut kekurangan dari sistem ini.

  • Butuh biaya yang tidak kecil untuk mulai bercocok tanam dengan sistem hidroponik
  • Perlu sabar dan teliti untuk selalu mengelola keberlangsungan hidup tanaman
  • Ketersediaan air harus konstan karena tanaman dapat mengering jika kekurangan air

Jika dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional yang menggunakan tanah tentu kerugian budidaya hidroponik lebih kecil. Pada hidroponik juga tidak digunakan pestisida, sehingga hasil produksinya akan lebih bersih, sehat, dan aman untuk dikonsumsi. Selain itu, tentu sistem budidaya hidroponik akan membantu memperindah lingkungan kota karena kehijauan yang dihasilkan.

media tanam hidroponik terlengkap

Pada perkembangannya media tanam hidroponik semakin variatif. Ada penambahan pilihan selain hanya menggunakan air, yaitu menggunakan media padat lain selain tanah. Yang terpenting dari suatu media tanam ialah harus memenuhi persyaratan ketersediaan air dan udara untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, idealnya media tanam juga harus memiliki pori untuk aerasi. Berikut macam-macam media tanam yang digunakan pada budidaya hidroponik.

  • Media Arang Sekam

Media ini cukup popular karena mudah ditemui dan harganya lebih terjangkau. Arang sekam terbuat dari sekam yang telah dibakar. Umumnya digunakan untuk tanaman tomat dan mentimun. Media arang sekam mempunyai kelebihan, yaitu harga murah, mudah didapat, ringan, dan lebih steril. Sementara kekurangannya, yaitu hanya dapat digunakan untuk dua kali pemakaian.

arang sekam media tanam hidroponik

  • Media Serbuk Sabut Kelapa

Pada tahun 80-an, sebuah lembaga melaporkan bahwa serbuk sabut kelapa dapat dijadikan sebagai media tanam budidaya hidroponik. Serbuk ini merupakan sisa pengolahan penguraian sabut kelapa. Bentuknya menyerupai serbuk hasil gergaji kayu. Serbuk ini dianggap memiliki daya tampung air yang tinggi. Tentunya penggunaan serbuk sabut kelapa akan membuat kegiatan bercocok tanam hidroponik menjadi lebih hemat air. Namun, penggunaannya harus dicampurkan bersama arang sekam dengan perbandingan 50:50. Tujuannya untuk meningkatkan oksigen agar aerasi juga meningkat.

Media Serbuk Sabut Kelapa media tanam hidroponik

  • Media Batang dan Akar Pakis

Batang dan akar pakis yang sering digunakan berasal dari tanaman pakis yang sudah tua dan berwarna hitam. Batang dan akar ini sudah kering sehingga lebih mudah untuk dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Pemilihan media tanam pakis disebabkan pakis mudah mengikat air, memiliki aerasi dan drainase yang baik. Namun, media tanam ini juga sering dijadikan sebagai sarang oleh semut atau binatang kecil lainnya.

media tanam hidroponik Media Batang dan Akar Pakis

  • Media Kerikil

Media tanam kerikil biasanya digunakan untuk pot atau vas bunga yang ditujukan untuk hiasan. Kerikil dapat membantu peredaran larutan unsur hara dengan memberikan ruang bagi akar tanaman agar dapat tumbuh. Kerikil juga akan mempertahankan kelembaban dan sirkulasi udara. Karena kerikil memiliki sifat sulit mengikat air, diperlukan penyiraman secara rutin pada tanaman. Namun, saat ini telah tersedia kerikil sintetis yang memiliki kemampuan mengikat air.

Media Kerikil media tanam hidroponik

  • Media Pasir

Media tanam pasir lebih umum digunakan untuk penyemaian benih, penumbuhan bibit dan tanaman dengan teknik stek. Sifat pasir yang cepat kering akan lebih memudahkan proses pemindahan bibit ke media lain. Namun, penggunaan media tanam pasir harus disandingkan dengan media tanam lainnya, seperti kerikil. Di samping itu, pasir dapat meningkatkan drainase dan aerasi.

  • Media Spons

Spons memiliki pori-pori untuk mengalirkan larutan nutrisi ke akar tanaman. Spons juga ringan sehingga mudah untuk dipindahkan dan lebih mudah menyerap air. Adapun keunggulan spons adalah mampu menyerap sekaligus menahan air untuk waktu yang cukup lama dan kebal terhadap jamur. Media tanam spons juga mudah diperoleh dan harganya juga terjangkau. Namun, spons mudah rusak sehingga harus selalu diperbaharui.

Media Spons media tanam hidroponik

  • Media Kapas

Kapas memiliki daya serap air yang sangat tinggi. Hal ini sangat berguna karena pemberian nutrisi pada tanaman pun akan berjalan dengan baik. kapas juga mudah untuk didapatkan. Biasanya media tanam kapan digunakan untuk penyemaian benih sebelum benih dipindahkan untuk ditanam pada media tanam lain.

media tanam hidroponik Media Kapas

  • Media Gabus

Media tanam gabus digunakan sebagai salah satu campuran dengan tujuan meningkatkan porositas media tanam. Gabus juga dapat dilubangi sehingga mempermudah aliran larutan nutrisi.

  • Media Rockwool

Rockwool berasal dari batu, seperti batu kapur, batu bara, atau basalt, kaca atau keramik yang dilelehkan. Selanjutnya, lelehan itu dipintal hingga membentuk serat-serat. Lalu serat akan dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan. Serat ini sangat baik bila digunakan untuk menopang akar dan batang. Media ini juga biasa digunakan untuk penyemaian bibit dan media tanam. Kemampuannya dalam menahan air dan udara membuatnya menjadi media tanam yang sangat baik untuk mendukung pertumbuhan akar dan penyerapan nutrisi.

Rockwool media tanam hidroponik

Rockwool memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya di antaranya ialah ramah lingkungan, mengoptimalkan peran pupuk, dan mampu menampung banyak air. Kekurangannya ialah terlalu ringan sehingga dapat diterbangkan angin dan memerlukan perlakuan khusus sebelum dijadikan media tanam karena pH yang tinggi.

  • Media Moss

Media moss diperoleh dari akar paku-pakuan hutan. Biasanya digunakan saat penyemaian benih hingga pembungaan. Media ini mampu mengikat air, sistem aerasi dan drainase yang baik serta rongganya dapat membuat akar leluasa untuk tumbuh dan berkembang. Agar hasilnya sempurna, media ini perlu dilakukan bersamaan dengan kulit kayu dan daun kering.

Selain media tanam yang berbeda-beda, jenis metode penanaman hidroponik pun bermacam-macam. Jenis metode sistem budidaya hidroponik yang popular dan sering digunakan antara lain:

  • Wick System

Wick system atau dalam bahasa Indonesia disebut sistem sumbu merupakan jenis metode sistem hidroponik yang paling sederhana. Cukup dengan menggunakan sumbu yang dihubungkan dengan pot tanaman dan media larutan nutrisi. Alat yang dibutuhkan pun hanya larutan nutrisi, kain flanel, dan arang sekam sehingga cukup sederhana. Namun, jenis metode ini hanya cocok digunakan untuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air atau penanaman skala kecil.

  • Water Culture System

Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sistem rakit apung. Termasuk ke dalam sistem yang paling sederhana karena tidak membutuhkan alat yang terlalu banyak. Kelebihan dari jenis metode ini, yaitu biaya pembuatannya murah dan perawatannya pun tidak sulit. Selain itu, juga tidak bergantung pada ketersediaan listrik, lebih hemat air, dan larutan nutrisi. Sementara kekurangannya ialah akar tanaman akan lebih rentan busuk karena terus tergenang air larutan nutrisi.

  • Nutrient Film Technique System

Jenis metode ini dikenal dengan sistem NFT. Pada sistem ini akar tanaman akan terendam air yang berisi larutan nutrisi yang akan secara terus-menerus tersirkulasi. Karena adanya sirkulasi ini, maka tanaman akan memperoleh air, nutrisi, dan oksigen yang cukup. Sistem NFT akan cocok digunakan pada tanaman yang membutuhkan banyak air karena alirannya yang stabil akan membuat aliran air nutrisi didapatkan secara sama rata. Namun, untuk membuat sistem ini membutuhkan biaya yang sangat mahal dan membutuhkan arus listrik yang stabil. Jika ada satu tanaman yang sakit pun akan menularkan pada tanaman yang lainnya.

  • Drip System

Di Indonesia dikenal dengan sistem irigasi tetes, yaitu sistem dengan teknik meneteskan larutan dari bagian atas menyiram batang hingga secara perlahan turun ke akar tanaman. Dengan menerapkan sistem ini, akar tanaman lebih mudah berkembang dan terjamin kebersihan serta kesehatannya. Namun, sistem ini memerlukan perawatan intensif dan modal yang dibutuhkan untuk peralatannya pun mahal.

  • Ebb and Flow System

Dalam bahasa Indonesia berarti sistem pasang surut. Bak penampung akan dipompa untuk membasahi akar (pasang), lalu air akan kembali turun menuju bak penampungan (surut). Dengan begitu, tanaman akan mendapatkan, air, oksigen, dan nutrisi melalui pemompaan tersebut. Sistem ini tergolong sederhana dengan pembuatan yang mudah juga hemat energi. Kelebihan dari sistem ini, yaitu suplai air, oksigen, dan nutrisi yang terpenuhi serta perawatan yang lebih mudah. Sistem ini juga memiliki kekurangan, yaitu biaya pembuatannya yang cukup mahal dan sangat bergantung pada listrik.

Mengenal Nutrisi Hidroponik

Mengenal Nutrisi Hidroponik

Sistem budidaya hidroponik memerlukan nutrisi yang mendukung pertumbuhan tanaman yang sehat agar menghasilkan produk dengan kualitas yang tinggi. Penyediaan nutrisi dalam sistem budidaya hidroponik berbeda dengan budidaya konvensional. Dalam budidaya hidroponik, semua kebutuhan nutrisi disediakan dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap oleh tanaman. Berbeda dengan budidaya konvensional yang nutrisinya bergantung terhadap kemampuan tanah menghasilkan unsur hara.

Unsur hara yang tersedia pada tanah akan bergantung terhadap pupuk yang digunakan. Baik pada pemberian konsentrasi pupuk, frekuensi pemberian pupuk, cara pemberian pupuk, dan bentuk pupuk yang digunakan. Hal demikian tidak berlaku pada budidaya hidroponik karena sistem ini tidak memerlukan tanah sebagai media tanamnya, melainkan harus berfokus pada nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Oleh sebab itu, pemberian nutrisi mutlak dibutuhkan oleh tanaman hidroponik agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Nutrisi yang digunakan dalam budidaya hidroponik biasanya berbentuk larutan yang harus mengandung unsur hara makro dan mikro. Unsur makro antara lain nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S). Unsur ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan struktur vegetative dan produksi. Unsur mikro, yaitu mangan (Mn), cuprum (Cu), molibdin (Mo), zincum (Zn), dan zat besi (Fe). Unsur mikro dibutuhkan sebagai unsur pelengkap untuk menunjang kadar gula, rasa, warna, dan kesehatan tanaman.

Masing-masing unsur hara makro dan mikro memiliki peranan penting untuk menutrisi tanaman. Peranan tersebut di antaranya:

  • Nitrogen (N)

Nitrogen (N) berfungsi meningkatkan protein, asam nukleat, dan asam amino dalam pertumbuhan tanaman. N juga diperlukan untuk pembentukan bagian-bagian pada tanaman, seperti daun, batang, dan akar. Namun, kekurangan N dapat menyebabkan klorosis (penguningan) pada daun. Tanaman juga dapat mengalami pertumbuhan yang tidak sempurna. Ukuran buahnya akan kerdil dan buah cepat matang sebelum waktunya.

Di samping itu, N yang berlebihan pun akan mengakibatkan daun dan batang yang dihasilkan berjumlah banyak sehingga batang menjadi rentan roboh. Perkembangan buah pun akan terganggunya dan hasil panennya sedikit.

  • Fosfor (P)

Fosfor (P) sangat penting untuk metabolisme energi pada tanaman. P mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap penyakit, memperkuat batang hingga pembentukan bunga, buah, dan biji. Kekurangan P dapat menyebabkan produk tanaman menjadi kerdil. Biasanya ketika tanaman kekurangan P akan ditandai dengan daun yang menjadi kemerahan lalu secara perlahan menjadi kuning. Namun, kelebihan P juga dapat membuat daun menjadi berwarna pucat, layu, dan kering. Selain itu, tanaman juga akan kesulitan menyerap unsur hidrogen.

  • Kalium (K)

Kalium (K) berfungsi sebagai pengaktif sejumlah enzim penting untuk fotosintesis. Selain itu, K juga dapat membantu mengaktifkan enzim yang diperlukan untuk membentuk protein yang sangat penting untuk metabolisme tanaman. Jika kekurangan K akan mengakibatkan penuaan daun yang lebih cepat. Tepi daun akan berwarna kuning kecoklatan disertai bercak berwarna jingga. Akar tanaman juga akan busuk karena kehilangan daya oksidanya.

  • Kalsium (Ca)

Sama halnya dengan kalium (K), kalsium (Ca) juga berperan sebagai katalisator yang mengaktifkan enzim. Ca juga akan mempercepat pertumbuhan akar, memperbaiki ketegakan tanaman, mendukung proses sintesa protein, pembelahan maupun pemanjangan sel. Kekurangan Ca dapat menyebabkan kerusakan hingga kematian pada tanaman. Hal ini karena pembentukan dinding sel baru akan terhambat sehingga pembelahan sel pun akan ikut terhambat.

  • Magnesium (Mg)

Magnesium (Mg) dibutuhkan dalam proses metabolisme fosfat, pembentukan klorofil, respirasi tanaman, dan aktivasi enzim. Kekurangan Mg akan menyebabkan munculnya bercak-bercak kuning pada permukaan daun yang sudah tua. Sejumlah zat hara juga tidak akan terangkut karena energi tanaman menjadi lemah.

  • Sulfur (S)

Fungsi dari sulfur (S) di antaranya membuat warna daun menjadi lebih hijau, meningkatkan protein dan vitamin, serta membantu proses pembulatan zat gula. Sementara kekurangan S akan menurunkan produksi protein dan proses asimilasi serta sintesis karbohidrat yang terhambat. Di sisi lain, kelebihan S juga akan meningkatkan keasaman yang mengakibatkan kerusakan pada tanaman.

  • Mangan (Mn)

Mangan (Mn) mampu membantu mengurangi nitrat sebelum memproduksi protein. Pekerjaan ini dilakukan Mn bersama dengan enzim yang ada pada tanaman. Jika tanaman kekurangan Mn maka yang terjadi adalah daun yang masih muda akan muncul bintik-bintik kuning atau coklat.

  • Cuprum (Cu)

Cuprum (Cu) juga menjadi katalisator dari beberapa enzim pendukung. Cu juga dapat menjadi fungisida dan pelindung dari serangga serta penyakit. Apabila kekurangan Cu, tanaman akan layu dan tidak teratur pertumbuhannya. Namun, kelebihan Cu juga dapat memperlambat pertumbuhan tanaman, terutama bagian akar.

  • Molibdenum (Mo)

Molibdenum (Mo) akan membantu membentuk protein bagi tanaman. Mo juga dapat membantu kemampuan tanaman untuk memperbaiki nitrogen. Jika kekurangan Mo maka akan timbul butir-butir kuning di antara tulang daun pada daun tua. Selain itu, daun-daun juga berkerut, mengering, dan mati.  Pertumbuhan tanaman pun tidak akan normal.

  • Zincum (Zn)

Zincum (Zn) akan membantu proses pertumbuhan tanaman agar tidak terjadi bentuk fisik yang kerdil, menguning, dan keriting pada daun tanaman. Kekurangan Zn akan menyebabkan tanaman bermasalah, seperti terpapar penyakit. Di sisi lain, kelebihan Zn akan membawa racun yang mematikan bagi tanaman.

  • Zat besi (Fe)

Zat besi (Fe) menjadi katalis utama dalam produksi klorofil untuk fotosintesis serta pembawa elektron pada reaksi oksidasi dan reduksi dalam respirasi. Saat tanaman kekurangan Fe maka daun akan mengalami klorosis.

Adapun sistem produksi dengan memanfaatkan larutan terbagi menjadi dua, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Pada sistem terbuka larutan akan digunakan kembali. Sistem ini menggunakan prinsip tetes yang larutannya tidak akan digunakan kembali. Di sisi lain, sistem tertutup akan memanfaatkan kembali larutan nutrisi selama tanaman masih dalam masa pertumbuhan. Kemudian sistem tertutup masih terbagi lagi menjadi dua, yaitu larutan nutrisi statis dan larutan nutrisi mengalir

  • Larutan nutrisi statis

Teknik ini menggunakan cara pemberian larutan yang tidak dialirkan. Pemberian larutan diusahakan berada di bawah perakaran agar tanaman tetap memperoleh oksigen. Pada teknik ini diperlukan penggantian atau penambahan larutan nutrisi secara berkala atau disesuaikan dengan pengecekan jumlah larutan sudah kurang dari ketentuan atau tidak.

  • Larutan nutrisi mengalir

Teknik ini akan mengalirkan larutan nutrisi secara terus-menerus dari tangki yang melewati akar tanaman. Sebenarnya cara ini lebih mudah untuk mengatur suhu dan larutan nutrisi yang harus diterima oleh banyak tanaman sekaligus. Namun, perlu diperhatikan juga celah untuk tersedianya oksigen bagi tanaman.

Cara Membuat Nutrisi Hidroponik

Cara Membuat Nutrisi Hidroponik

Nutrisi hidroponik atau pupuk hidroponik diberikan dalam bentuk larutan air. Meski tidak ada nutrisi tanah, pemberian nutrisi melalui air juga akan memberikan manfaat yang sama pada tanaman. Namun, tidak semua jenis air dapat dijadikan sebagai campuran nutrisi. Adapun syarat yang perlu diperhatikan terkait dengan air yang digunakan untuk campuran nutrisi ialah sebagai berikut.

  • Mineral dalam air harus stabil

Meskipun air banyak mengandungnya, tidak seluruh mineralnya dapat bermanfaat. Ada juga beberapa unsur mineral yang berbahaya bagi pertumbuhan tanaman. Air yang memiliki nilai terlarut tinggi justru akan menghambat kerja akar tanaman dalam menyerap nutrisi.

  • Kualitas air

Kualitas air yang dibutuhkan pada tanaman hidroponik adalah sir dengan kadar mineral rendah. Kadar mineral seperti ini akan memaksimalkan pertumbuhan tanaman hidroponik. Kemaksimalan yang dimaksud adalah kemampuan akar untuk menyerap dan memanfaatkan nutrisi.

  • Kestabilan air mineral

Rendahnya kadar mineral dalam air harus selalu stabil. Penstabilan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi filter air.

  • Nilai pH air

Nilai pH air juga perlu diperhatikan karena akan sangat berdampak pada kemampuan akar tanaman dalam menyerap nutrisi. Nilai yang ideal terletak pada kisaran 5,5-7,5 jika di bawah atau di atas angka tersebut maka akan terjadi penghambatan pada kemampuan akar menyerap nutrisi. Jika di bawah angka 5,5 akan mengakibatkan rusaknya sel-sel akar tanaman, sedangkan di atas 7,5 akan membuat tanaman menjadi tercemar.

Sebagai penjelasan tambahan, misalnya, air laut yang mengandung garam sangat tinggi tidak akan sesuai dengan kebutuhan air untuk akar tanaman. Contoh lainnya, air hujan yang tercampur dengan logam-logam berat dari polusi tidak akan dapat digunakan. Kecuali, air hujan diendapkan selama semalam terlebih dahulu atau disaring menggunakan filter air.

Berdasarkan penjelasan di atas, air dan nutrisi menjadi faktor vital yang mempengaruhi kualitas produk tanaman setelah panen. Tanaman harus diberikan larutan nutrisi secara terus-menerus untuk menjaga pertumbuhannya.  Pemilihan penggunaan air pun harus diperhatikan agar tidak ada kerusakan pada tanaman.

Bahan nutrisi hidroponik sendiri bisa didapatkan di pasaran ataupun dengan cara membuatnya sendiri. Namun, pada praktiknya nutrisi yang dibeli di pasaran pun harus melalui proses pencampuran sesuai dengan ketentuan takaran yang telah di atur. Sementara untuk membuatnya sendiri juga diperlukan beberapa bahan dan tahapan yang membutuhkan waktu lebih dibandingkan dengan membeli nutrisi yang sudah dikemas. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan cara membuat nutrisi hidroponik.

Berikut beberapa jenis pupuk hidroponik yang dapat ditemukan di pasaran.

  • Pupuk Hidroponik AB Mix Hydro J

Jenis pupuk ini paling sering digunakan oleh para penggiat budidaya hidroponik. Terdiri dari dua nutrisi, yaitu nutrisi A dan nutrisi B. Kedua nutrisi ini selanjutnya akan dicampurkan, makanya disebut dengan nutrisi atau pupuk AB mix. Bentuknya berupa butiran dan cairan. Pupuk ini digunakan untuk tanaman berdaun dan sayuran. Teksturnya yang mudah larut tidak akan menyebabkan terjadinya penyumbatan pada sistem hidroponik.

Pupuk Hidroponik AB Mix Hydro J

Adapun cara melarutkan nutrisi A ialah sebagai berikut.

  • Siapkan nutrisi A
  • Siapkan wadah kosong untuk tempat menyimpan larutan nutrisi A
  • Isi wadah dengan air
  • Buka kemasan nutrisi A yang berisi butiran dan serbuk. Lalu masukkan butiran ke dalam air kemudian ratakan hingga nutrisi larut

Sementara cara melarutkan nutrisi B, yaitu:

  • Siapkan nutrisi B
  • Siapkan wadah kosong
  • Buka kemasan nutrisi B dan bungkusan kecil di dalamnya
  • Tuang isi seluruh kemasan ke wadah lalu ratakan hingga larut

Setelah melarutkan masing-masing nutrisi maka langkah selanjutnya adalah mencampurkan keduanya. Berikut langkah mencampurkan nutrisi A dan B

  • Siapkan wadah penampung
  • Buat larutan nutrisi dengan perbandingan 1:5:5 (1 liter air, 5 mililiter larutan nutrisi A, dan 5 mililiter nutrisi B)
  • Sesuaikan pembuatan larutan dengan kebutuhan dari tanaman

 

  • Pupuk Lewatit HD-5

Pupuk Lewatit HD-5 nutrisi hidroponik

Pupuk ini berbentuk seperti gula pasir, tetapi berwarna merah muda. Unsur hara pupuk ini akan keluar hanya saat ada ion penukar yang terlarut dalam air. Dengan begitu, pemberian pupuk Lewatit sebaiknya dilakukan setelah tanaman berumur dua minggu sejak dipindahkan ke pot hidroponik. Cara menggunakannya dengan menyebarkan pupuk secara merata lalu menyiramnya dengan cukup air.

  • Pupuk Organik Cair (POC) Margaflor

Pupuk Organik Cair (POC) Margaflor nitrisi hidroponik

Seperti namanya, pupuk Margaflor berbentuk cair. Untuk menggunakannya, pupuk ini perlu dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Pemupukan baru dilakukan setelah tanaman berumur tiga minggu ketika dipindahkan ke media hidroponik.

  • Pupuk Anorganik dan Gandasil D

Pupuk ini merupakan pupuk anorganik yang menggunakan campuran pupuk NPK, KCI, dan Gandasil D. Ketika menggunakan pupuk ini, perlu berhati-hati agar tidak terjadi pengendapan.

Pupuk Anorganik dan Gandasil D nutrisi hidroponik

Cara mencampurkan pupuk ini ialah sebagai berikut.

  • Siapkan 3 buah gelas, pupuk NKP, pupuk KCI, pupuk Gandasil D, dan 1 wadah besar untuk menampung campuran seluruh pupuk
  • Isikan air ke dalam 3 gelas (1 gelas untuk pupuk NPK, 1 gelas untuk pupuk KCI, dan 1 gelas untuk pupuk Gandasil D)
  • Larutkan masing-masing pupuk NPK, KCI, dan Gandasil D satu per satu ke dalam gelas yang sudah disiapkan
  • Siapkan wadah penampung besar berisi air
  • Campurkan ketiga larutan pupuk tadi ke dalam air hingga merata dan tercampur sempurna

Namun, larutan-larutan ini perlu dipastikan kadar nutrisinya. Untuk mengetahuinya, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan TDS meter atau pH meter. Tujuannya adalah untuk mengetahui jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman.

TDS meter merupakan singkatan dari Total Dissolved Solid. Fungsi dari TDS meter adalah untuk mengukur konsentrasi nutrisi dari larutan agar dosis yang digunakan untuk memupuk tanaman dapat lebih akurat.

Sementara pH meter adalah alat ukur kadar keasaman dari sebuah cairan (dalam hal ini larutan nutrisi) dengan hasil yang lebih akurat. Perlu diketahui bahwa pH terbaik dari larutan nutrisi adalah 5,5 sampai 7,5. Jika kadarnya terlalu tinggi atau terlalu rendah masih dapat dilakukan pengaturan kembali. Dengan cara menurunkan kadar yang terlalu tinggi menggunakan Asam Sulfat dan menaikkan kadar yang terlalu rendah menggunakan Kalium Hidroksida.

Pembuatan nutrisi juga dapat dilakukan secara mandiri, yakni dengan membuatnya sendiri menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar. Larutan nutrisi buatan sendiri ini biasanya harus didiamkan selama 7-10 hari agar bahan-bahan itu mengeluarkan cairan hasil fermentasi. Meskipun membutuhkan waktu yang lebih lama, larutan nutrisi ini juga bagus untuk pertumbuhan tanaman. Terdapat beberapa bahan yang biasanya digunakan untuk membuat nutrisi tanaman. Berikut akan disebutkan alat dan bahan serta dijelaskan langkah cara membuat nutrisi hidroponik.

Nasi Basi

Alat dan bahan:

  • Baskom untuk menempatkan nasi basi
  • Ember untuk wadah mencampur bahan
  • Toples untuk menyimpan larutan
  • Kayu untuk mengaduk bahan
  • Nasi basi sebagai bahan dasar
  • Air
  • ½ kg gula aren atau gula pasir

Langkah pembuatan:

  • Taruh nasi basi di baskom lalu tutup dan biarkan tetap mendapat sirkulasi udara
  • Simpan nasi selama 3-5 hari agar tumbuh jamur kekuningan
  • Setelah nasi telah berjamur, rebus air hingga mendidih dan campurkan gula hingga larut
  • Biarkan gula mendingin

Langkah pencampuran bahan:

  • Keluarkan nasi basi dari baskom lalu masukkan ke dalam ember
  • Tuang juga cairan gula ke dalam ember
  • Aduk hingga merata dan nasi terendam cairan gula
  • Setelah kedua bahan tercampur, masukkan ke dalam toples yang telah disiapkan
  • Simpan botol yang berisi campuran kedua bahan itu selama 7 hari di tempat yang teduh bebas matahari

Cara penggunaannya:

  • Campurkan larutan nutrisi dengan air. Takarannya, setiap 1 liter pupuk dicampur dengan air 5 liter
  • Semaikan benih hingga timbul 2-4 buah daun
  • Sediakan perlengkapan bercocok tanam hidroponik
  • Tanamkan tanaman pada media tanam
  • Siram dengan air biasa (yang tidak tercampur larutan nutrisi)
  • Simpan wadah penampung tanaman dan media tanam di tempat teduh bebas matahari
  • Biarkan tanaman hingga muncul akar dan daun baru
  • Tuang larutan nutrisi dan pindahkan wadah penampung tanaman ke tempat yang terkena cahaya matahari
  • Selanjutnya, tambahkan larutan nutrisi secara rutin hanya jika larutan dalam wadah hampir habis

 

Batang Pisang

Batang Pisang nutrisi hidroponik

Alat dan bahan:

  • Potong batang pisang sekitar 50 cm, ambil bagian dalam yang berwarna putih yang paling dekat dengan akar atau bonggol
  • 10 liter air bersih
  • 1 buah gula merah
  • 100 cc dekomposer
  • Wadah besar untuk menampung larutan

Langkah pembuatan:

  • Tumbuk bonggol dan gula merah
  • Campurkan semua bahan ke dalam wadah
  • Tutup wadah selama 10 hari lamanya
  • Sesekali aduk bahan yang disimpan di wadah tadi
  • Setelah 10 hari, pisahkan campuran menjadi tiga bagian sama rata dan tuangkan air 20 liter ke masing-masing bagian
  • Pupuk siap diberikan pada tanaman

 

Kotoran Kelinci

Kotoran Kelinci nutrisi hidroponik

Alat dan bahan:

  • 5 liter urin kelinci
  • 2 kg kotoran kelinci
  • Tanaman kipahit, kacang-kacangan, alga, atau dadap ½ karung
  • 5 liter air kelapa
  • ¼ kg bawang merah
  • 2 buah gula merah
  • 20 liter air
  • 20 cc dekomposer
  • Wadah besar untuk menampung larutan

Langkah pembuatan:

  • Tumbuh tanaman kipahit, kacang-kacangan, alga, atau dadap dengan bawang merah serta gula merah hingga halus
  • Siapkan wadah dan masukkan semua bahan termasuk bahan yang sudah ditumbuk halus
  • Tuang air bersih
  • Tutup wadah dan simpan di tempat yang teduh bebas matahari
  • Sesekali buka wadah dan aduk bahan lalu tutup kembali. Ulangin proses ini selama 7-8 hari
  • Setelahnya, larutan nutrisi sudah bisa digunakan

 

Kotoran Kambing

Kotoran Kambing nutrisi hidroponik

Alat dan bahan:

  • 30 kg kotoran kambing
  • 1 kg pupuk NPK
  • 500 gram gula pasir dan terasi
  • 500 ml EM4
  • Dedaunan hijau secukupnya
  • 100 liter air
  • Wadah besar atau drum plastik untuk menampung larutan nutrisi

Langkah pembuatan:

  • Tumbuk kotoran kambing hingga hancur seperti remah
  • Larutkan 500 gram gula pasir dan terasi, 1 kg pupuk NPK serta 500 ml EM4 ke dalam air
  • Setelah seluruh bahan larut dan tercampur dengan air, masukkan ke dalam wadah atau drum bersamaan dengan kotoran kambing
  • Tuang 100 liter air
  • Tutup rapat wadah atau drum dan aduk selama 15 menit setiap harinya. Lakukan selama 7 hari
  • Setelahnya larutan pupuk nutrisi siap digunakan

 

Dedaunan Kering

Alat dan bahan:

  • 1 karung dedaunan kering yang berguguran
  • 20 liter air
  • 100 cc dekomposer
  • 1 buah gula merah
  • Wadah untuk menampung larutan nutrisi

Langkah pembuatan:

  • Tumbuk halus gula merah dan daun kering
  • Setelah halus, masukkan ke dalam wadah dan tuangkan air
  • Diamkan selama 10 hari
  • Setelah hari ke-10 maka larutan nutrisi telah siap digunakan

Setelah mengetahui media tanam hidroponik, nutrisi hidroponik, dan cara membuat pupuk hidroponik, sebaiknya juga perlu diketahui tanaman apa saja yang dapat dikembangkan secara hidroponik. Jenis tanaman yang dapat dikembangkan secara hidroponik terdiri dari jenis tanaman sayuran daun, tanaman sayuran buah, tanaman buah, dan tanaman hias.

Tanaman Sayuran Daun

  • Tanaman Kangkung

tanaman hidroponik kangkung

Kangkung dapat ditanam dengan sistem hidroponik dengan mudah. Hidroponik tanaman kangkung dapat dibudidayakan dengan langkah: (a) menyiapkan benih berkualitas untuk disemai, (b) penyemaian selesai pada umur 4-5 hari, setelahnya pindahkan tanaman ke wadah berisi nutrisi, (c) lakukan perawatan terhadap pH dan kepekatan larutan, dan (d) panen dapat dilakukan ketika umur tanaman 4-6 minggu.

  • Tanaman Bayam

bayam tanaman hidroponik

Langkah budidaya hidroponik terhadap tanaman bayam, yakni: (a) semai bibit bayam pada pot atau polybag selama 3 hari, (b) siapkan tempat berisi media hidroponik untuk menanam bayam yang sudah memiliki 2-3 daun dan simpan di tempat yang terkena sinar matahari, lakukan perawatan terhadap pH dan kepekatan larutan, dan (d) panen dapat dilakukan ketika umur tanaman 30-40 hari.

  • Tanaman Sawi

tanaman hidroponik sawi

Sawi merupakan tanaman yang tahan terhadap hujan, bisa ditanam di mana saja, dan bisa tumbuh sepanjang tahun. Langkah budidaya hidroponik sawi, yakni: (a) siapkan alat dan bahan, (b) pilih benih dan lakukan pembibitan, (c) gunakan media tanam arang sekam dengan sistem NFT, (d) lakukan pengecekan terhadap pH, kepekatan dan ketersediaan larutan serta sanitasi, dan (e) panen sawi pada umur 2-3 bulan.

  • Tanaman Selada

tanaman hidroponik selada

Langkah budidaya hidroponik tanaman selada ialah: (a) siapkat alat dan bahan, (b) pilih bibit selada yang sesuai dan semai selama 25 hari, (c) bibit ditanam dan diletakkan pada tempat teduh, setelah 3 hari pindahkan ke tempat terkena sinar matahari, (d) usahakan suhu stabil serta nutrisi dan sinar matahari tercukupi, dan (5) panen selada setelah 58-60 hari.

  • Tanaman Seledri

tanaman hidroponik seledri

Penanaman seledri secara hidroponik biasanya menggunakan sistem sumbu atau sistem rakit apung. Budidaya hidroponik pada tanaman seledri memiliki langkah: (a) pilih bibit yang memiliki daya kecambah tinggi, (b) semai selama 2-3 hari sampai helai daun muncul, (c) tanam bibit itu ke media tanam hidroponik, (d) atur nutrisi dan sinar matahari tercukupi, dan (e) panen seledri setelah 30-4- hari.

  • Tanaman Pakcoy

tanaman hidroponik pakcoy

Langkan penanaman pakcoy dengan budidaya hidroponik, yaitu: (a) pilih bibit yang kondisinya baik, (b) semai selama 7-10 hari hingga muncul 4-5 helai daun, (c) mulai tanam bibit, (e) atur agar nutrisi dan sinar matahari cukup, dan (e) lakukan panen sekitar 20-30 hari setelahnya.

  • Tanaman Kailan

tanaman hidroponik kailan

Tanaman kailan lebih dikenal dengan brokoli china. Budidaya hidroponik dapat dilakukan dengan langkah-langkah, (a) siapkan bahan dan alat yang dibutuhkan, (b) pilih varietas bibit, (c) sebelum disemai rendam di air hangat selama 2 jam, (d) setelah disemai, simpan di tempat teduh selama 2-3 hari lalu, (e) jika sudah muncul kecambah baru pindahkan ke tempat yang terkena sinar matahari, (f) tanam bibit yang sudah berdaun, (g) pastikan kondisi nutrisi dan sinar matahari cukup, dan (h) panen tanaman kailan setelah 25-40 hari.

 

Tanaman Sayuran Buah

  • Tanaman Cabai

tanaman hidroponik cabai

Cara menanam tanaman cabai dengan hidroponik ialah (a) persiapkan benih lalu rendam dan ambil hanya benih yang tenggelam, (b) setelah direndam, biji dibungkus selama sehari ditempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung, (c) setelah daun semu menjadi daun sejati ketika umur 21-24 hari lakukan transplanting, (d) tanam cabai menggunakan sistem sumbu, irigasi tetes, atau lainnya, (e) pasang ajir, pangkas tunas, dan cek kebutuhan nutrisi, dan (f) panen cabai yang berwarna merah dan bergaris hijau pudar setelah 80-90 hari.

  • Tanaman Tomat Ceri

tanaman hidroponik tomat ceri

Varietas ini cukup diminati dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan tomat biasa. Tahapan dalam budidaya hidroponik untuk tanaman tomat ceri, yakni: (a) pilih benih, (b) rendah benih lalu hanya benih yang terendam yang disemai menggunakan rockwool dan tutup selama 4-5 hari, (c) tanam bibit yang berumur 1 bulan, (d) lakukan perawatan intensif, mulai dari penyiraman, pemberian nutrisi, sanitasi, pemangkasan, pemasangan tali rambat hingga pengendalian hama dan penyakit, dan (e) ketika umur 2-3 bulan ceri yang sudah menghasilkan buah dapat dipanen.

  • Tanaman Mentimun

tanaman hidroponik mentimun

Langkah-langkahnya, yaitu: (a) siapkan benih untuk direndam selama 2 jam dan ambil benih yang tenggelam, (b) semai bening menggunakan rockwool, (c) siapkan media tanam arang sekam atau pasir, (d) bibit ditanam ketika telah bertunas dan memiliki akar, (e) lakukan pemeliharaan tanaman, dan (e) tanaman bisa dipanen ketika panjangnya lebih kurang 11 cm.

 

Tanaman Buah

  • Tanaman Melon

tanaman hidroponik melon

Tanaman ini tumbuh dengan cara merambat. Ketika menanam melon dengan budidaya hidroponik, perlu memperhatikan pemberian nutrisi berupa cairan. Media semai yang digunakan dapat berupa kapas, rockwool, arang sekam, atau serbuk sabut kelapa. Langkahnya ialah (a) siapkan benih melon untuk direndam di air hangat, hanya bibit yang tenggelam yang digunakan, (b) semai benih melon lalu saat sudah berkecambah letakkan di bawah sinar matahari langsung selama 3-5 jam, (c) pindahkan bibit melon dan gunakan sistem NFT, (d) pasang tiang atau lanjaran untuk media rambat, (e) potong tunas, dan (f) panen jika melon sudah berumur 50-60 hari.

  • Tanaman Semangka

tanaman hidroponik semangka

Pemakaian sistem budidaya hidroponik di dalam aktivitas menanam semangka ini dapat membuat produktivitas jadi jauh lebih tinggi. Hasil buahnya pun lebih berkualitas dibandingkan dengan penanaman konvensional. Tahapan budidaya semangka secara hidroponik di antaranya: (a) memilih bibit yang hitam mengkilap dengan permukaan licin lalu rendam, (b) siapkan media tanam, (c) rendam bibit selama 2-4 jam menggunakan larutan fungisida lalu semai memakai polybag, (d) setelah muncul 3-4 helai daun tanam bibit, (e) pastikan semangka dalam keadaan bersih dan steril dengan pengendalian dari gulma, hama, dan penyakit, serta (f) panen pada waktu umur 2-3 bulan.

  • Tanaman Stroberi

tanaman hidroponik stroberi

Penanaman stroberi dengan sistem tetes dalam budidaya hidroponik menghasilkan buah yang lebih banyak. Hal ini disebabkan tanaman mampu menyerap nutrisi yang lebih banyak. Langkah-langkahnya ialah (a) siapkan alat dan bahan, (b) simpan benih di kulkas selama 2 minggu lalu semai pada wadah plastik tertutup, (c) pindahkan tanaman jika akar telah terbentuk sempurna ke media tanam serbut sabut kelapa, (d) beri nutrisi dengan sistem irigasi tetes sekaligus sirami, dan (e) panen ketika tanaman stroberi berumur 4-6 bulan.

 

Tanaman Hias

  • Tanaman Anggrek

Tanaman anggrek dapat tumbuh pada berbagai media tanam, seperti arang sekam, serbuk sabut kelapa hingga batang dan akar pakis. Media-media itu drainasenya baik sehingga akar tidak akan membusuk. Langkah-langkahnya ialah (a) siapkan alat dan bahan, yaitu pot dan agregat, (b) pilih bibit yang segar dan sehat, (c) masukkan bibit ke pot berisi agregat dan larutan nutrisi, dan (d) cek tanaman anggrek secara rutin.

  • Tanaman Aglaonema

Di Indonesia dikenal juga dengan nama sri rejeki. Tanaman ini cocok menggunakan teknik hidroponik yang tidak membutuhkan banyak air. Media tanamnya dapat berupa arang sekam. Adapun langkah-langkah budidaya hidroponik tanaman aglaonema ialah (1) cabut tanaman yang akan dihidroponikkan dengan cara menyemprotkan air perlahan hingga tanaman terlepas dengan akar bersih, (b) siapkan media tanam, (c) tanam aglaonema dengan tegak dan kuat lalu tuang larutan nutrisi, dan (d) sungkup dengan plastik dan letakkan di tempat teduh serta sejuk sekitar 2-3 hari hingga terlihat segar.

Banyak tanaman yang dapat dibudidayakan secara hidroponik. Mulai dari tanaman sayuran daun, tanaman sayuran buah, tanaman buah hingga tanaman hias. Semua tanaman itu dapat berkembang secara hidroponik karena adanya unsur hara. Pada budidaya hidroponik yang merupakan cara bercocok tanam tanpa tanah, unsur hara akan didapatkan dari larutan nutrisi. Larutan ini terbuat dari campuran air dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Oleh karena itu, meski tidak ditanam pada media tanah, tanaman akan tetap tumbuh dan berkembang dengan baik berkat larutan nutrisi hidroponik yang diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *