Sejarah Hidroponik, Belajar Hidroponik, Budidaya Hidroponik, Simak Infonya Berikut ini!

Bagi sebagian orang yang gemar bercocok tanam istilah hidroponik mungkin sudah tak asing lagi di telinga mereka. Akan tetapi, untuk segelintir orang lain pasti masih menimbulkan beberapa pertanyaan tentang hal itu. Pada umumnya pertanyaan tersebut menyangkut tiga hal yaitu sejarah hidroponik, belajar hidroponik, budidaya hidroponik.

Hidroponik menjadi sebuah tren saat ini, pasalnya banyak orang yang membicarakannya. Tidak hanya di media cetak, di media sosial pun banyak membahas tema hidroponik. Hal ini memang menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk diperbincangkan khususnya bagi mereka yang gemar berkebun atau bercocok tanam.

Sekarang ini telah banyak orang yang mulai bercocok tanam dengan metode hidroponik di rumah mereka, akan tetapi tak jarang pula dari mereka yang masih merasa bingung bagaimana cara untuk memulainya. Padahal sebenarnya hidroponik bukan lah sesuatu hal yang sukar untuk dilakukan, mengingat ada sebagian para pemula yang baru belajar untuk pertama kalinya dan sukses memanen.

Nah, untuk menjawab semua rasa penasaran kalian tentang hidroponik, kalian bisa menemukan jawabannya disini. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa hal itu secara tuntas, sehingga diharapkan kalian mempunyai gambaran awal sebelum menerapkan metode bercocok tanam hidroponik. Langsung saja yuk kita simak baik-baik ulasan di bawah ini ya!

sejarah hidroponik

Sejarah hidroponik, belajar hidroponik, budidaya hidroponik

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang metode hidroponik, terlebih dahulu kita simak apa itu hidroponik? Baca dengan seksama infonya berikut ini ya!

Apa itu hidroponik?

Mungkin sebagian dari kalian masih bertanya-tanya apa itu hidroponik? Ya, hidroponik berasal dari bahasa Yunani dan terdiri dari dua suku kata yaitu hidros dan ponos. Hidros atau dalam bahasa Inggris hydro yang bermakna air, sedangkan ponos atau dalam bahasa Inggris ponic yang bermakna mengerjakan. Jadi hidroponik secara bahasa adalah metode atau sistem bercocok tanam dengan menggunakan media berupa air.

Hal yang membedakan metode bercocok tanam ini dengan metode bercocok tanam secara konvensional ialah terletak pada media yang digunakan untuk bercocok tanam. Untuk metode hidroponik biasanya media yang dipakai adalah air. Sedangkan untuk metode konvensional media yang dipakai yaitu tanah. Jadi hidroponik bisa disebut sebagai inovasi terbaru dalam perkembangan teknik bercocok tanam.

Definisi hidroponik

Setelah kamu tau asal usul istilah hidroponik, sekarang kita lanjut ya tentang definisi hidroponik. Apa sih pengertian dari hidroponik? Hidroponik ialah cara budidaya suatu jenis tanaman tertentu yang memanfaatkan air sebagai media tanam, dimana tujuannya untuk memenuhi kebutuhan akan nutrisi tanaman itu sendiri. Pada metode ini jelas sekali jika media yang dipakai bukan berupa tanah.

Secara umum metode bercocok tanam dengan menggunakan tanah memerlukan asupan air yang banyak. Namun, tidak begitu untuk tanaman hidroponik ini, sebab cara bercocok tanamnya sudah memakai air sebagai media secara langsung. Dengan cara ini memang dinilai lebih efektif serta efisien. Maka tak heran jika banyak orang yang bercocok tanam dengan sistem ini. Apalagi jika wilayah mereka tak punya pasokan air yang banyak atau air yang tersedia hanya sedikit.

Sehingga bila didefinisikan secara lengkap hidroponik yaitu metode budidaya tanaman yang tak perlu memakai tanah, namun bisa diganti dengan air sebagai media bercocok tanam, selain itu juga perlu menambahkan beberapa asupan nutrisi untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Selanjutnya yuk kita simak tentang sejarah hidroponik!

belajar budidaya hidroponik

Sejarah hidroponik

Berdasarkan literatur, ternyata sejarah hidroponik telah dikenal dari ribuan tahun yang lalu tepatnya yaitu pada tahun 1627. Berawal dari sebuah tulisan Francis Bacon yang populer yakni Sylva Sylvarum, dimana di dalamnya membahas mengenai budidaya bercocok tanam di media selain tanah, yaitu dengan media air.

Pada tahun 1699 setelah tulisan tersebut dipublikasikan, maka John Woodward memutuskan untuk melakukan penelitian lebih lengkap tentang hidroponik ini. Tetapi hasilnya berbeda, tanaman yang di tanam dengan media hidroponik berupa air jernih ternyata tak juga lebih baik bila dibandingkan dengan memakai air keruh. Berdasarkan hasil riset tersebut, ia menyimpulkan jika air yang dipakai untuk menanam tanaman tak punya zat nutrisi yang cukup guna menjadikan tanaman itu tumbuh subur.

Tak berhenti sampai di situ, kemudian pada tahun 1842 riset pada tanaman hidroponik makin dikembangkan lagi oleh Julius von Sachs dan Wilhelm Knop. Dan ternyata hasilnya cukup mengejutkan, karena mereka berhasil menemukan 9 element nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman guna menyuburkan tanaman tersebut.

Maka dari itu pada tahun 1859-1865 mulai dibuat nutrisi yang isinya tentang 9 nutrisi kesuburan tanaman dalam bentuk larutan. Ini lah yang nantinya akan menjadi asal mula nutrisi hidroponik yang dapat menggantikan peran unsur hara yang ada di dalam tanah. Sehingga bercocok tanam menggunakan media air akan menghasilkan tanaman yang tingkat kesuburannya sama atau bahkan lebih subur bila dibandingkan dengan tanaman yang ditanam dengan media tanah.

Berdasarkan hasil riset tersebut menyatakan bahwa bercocok tanam dengan media selain tanah  ternyata sangat memungkinkan. Selain itu bisa menjadi solusi alternatif yang tepat dalam teknologi bercocok tanam modern. Secara akademis biasa dikenal dengan istilah solution culture, apa maksudnya? Jadi solution culture adalah teknik bercocok tanam tanpa memakai media tanam atau disebut dengan teknik inert. Jadi unsur hara atau nutrisi serta media tanam telah ada menjadi satu di dalam air.

budidaya hidroponik

Klimaksnya pada abad ke 19, William Frederick Gericke dari Universitas California melakukan riset kembali mengenai metode bercocok tanam modern hidroponik. Tepatnya pada tahun 1929, Barkeley berhasil menemukan metode bercocok tanam secara hidroponik. Pada awalnya nama yang dikenal bukan hidroponik, saat itu masih disebut aquaculture atau budidaya perairan. Akan tetapi, istilah tersebut ternyata telah terlebih dulu disematkan pada metode budidaya hewan air. Sehingga pada akhirnya salah seorang rekannya yang bernama W A Setchell menyarankan untuk memberi nama hidroponik.

Berdasarkan hasil riset mengenai hidroponik yang dilakukan oleh William Frederick Gericke, ia berhasil menumbuhkan tanaman tomat hingga mencapai tinggi 25 kaki pada halaman belakang rumahnya. Kemudian setelah hasil risetnya memperlihatkan hasil yang sangat menakjubkan, maka ia meminta izin kepada pihak kampus untuk menggunakan fasilitas kampus berupa greenhouse guna riset yang lebih lanjut lagi. Sayangnya, usul itu tak disetujui oleh pihak kampus dengan alasan meragukan hal tersebut. Akan tetapi, di sisi lain pihak kampus mendesaknya untuk memberitahu apa resep nutrisi tersebut. Gericke pun menyanggupinya, lalu ia diberikan fasilitas greenhouse beserta teknologinya.

Namun, ternyata pada saat bersamaan pihak Universitas justru menusuknya dari belakang. Ada dua orang yang diutus oleh pihak Universitas untuk menyusun lagi formula nutrisi tanpa seizinnya, mereka ialah Hoagland dan Arnon. Oleh karena hal itu, Gericke merasa dipermainkan  sehingga ia memilih untuk mempublikasikan secara besar-besaran formula nutrisi yang ia temukan supaya tak terjadi lagi hal-hal yang tak diinginkan.

Akhirnya pada tahun 1940 Gericke mengumumkan tulisannya yang berjudul Complete Guide to Soil less Gardening. Yang mana di dalam tulisan itu berisi tentang hidroponik secara keseluruhan, mulai dari teknik, media, nutrisi serta step-step bercocok tanam dengan metode hidroponik.

Bahkan beberapa diantaranya kemudian berkembang begitu pesat. Salah satunya ada yang berkembang menjadi metode tanam sederhana, dan ada juga yang memanfaatkan teknologi khusus. Perkembangan itu sudah diambil ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Ada pula beberapa metode tanam hidroponik yang tampak simple, namun justru sangat terkenal di tanah air.

Belajar hidroponik

Dari pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui jika hidroponik adalah salah satu metode bercocok tanam yang mengandalkan kekuatan air atau hydro. Yaps, berikut kita simak beberapa cara belajar hidroponik bagi pemula yang dapat kamu pelajari.

Pelajari teori dasar hidroponik

Jika ada seseorang yang ingin mempelajari sesuatu hal, maka langkah awal yang perlu dilakukan yaitu mengetahui materi dasar dari sesuatu hal yang akan dipelajari itu. Nah, sama hal nya saat kamu ingin belajar hidroponik, maka kamu perlu mempelajari teori dasar dari sistem hidroponik ini. Sebenarnya untuk belajar teori dasar sistem hidroponik juga bukan menjadi hal yang sukar. Sebab sistem ini biasa digunakan untuk bercocok tanam.

Bagi kita yang tinggal di negara agraris, pasti tak asing lagi kan dengan istilah bercocok tanam. Wawasan mengenai hal bercocok tanam ini lah yang dapat menjadi modal utama ketika kita akan belajar teori dasar sistem hidroponik.

Praktek hidroponik

Seperti kata pepatah sebagus apapun teorinya, namun kalau tidak dipraktekkan ya sama aja hasilnya nol. Berdasarkan pepatah tersebut kita dapat mengartikan bahwa selain belajar tentang teori dasar sistem hidroponik, maka kita juga perlu belajar praktek hidroponik secara langsung di lapangan.

Oleh sebab itu, wajib bagi pemula untuk dapat sedikit demi sedikit mempraktekkan teori yang telah dipelajari. Untuk mempraktekkan sistem bercocok tanam yang satu ini kamu juga tak perlu mencoba sistem yang rumit ataupun yang mahal. Sebab, terdapat beberapa sistem hidroponik secara sederhana yang dapat kamu coba dengan gampang sekaligus dengan modal yang tak terlalu besar.

Kamu juga bisa mempraktekkan sistem ini pada lahan yang sempit pula. Perlu diingat jika  sistem ini tak harus dilakukan di lahan yang luas, dan tak perlu tanah yang subur. Karena media utama pada sistem bercocok tanam ini berupa air. So, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi kan!

Sharing dengan para hobiis

Cara selanjutnya untuk belajar hidroponik yang dapat kamu coba ialah sharing dengan para hobiis hidroponik. Di media sosial, bahkan saat ini telah menjamur komunitas para pecinta hidroponik atau hobiis yang bersedia untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan sesama hobiis hidroponik.

Dengan begitu kamu dapat belajar dengan mereka atau bahkan saat kamu membutuhkan bantuan, kamu bisa bertanya dengan para hobiis. Gimana mudah kan? Tinggal kalian ingin mencoba dengan cara yang mana untuk bisa belajar hidroponik.

Budidaya hidroponik

Setelah kalian mengetahui definisi serta sejarah hidroponik, tentu saat ini sudah memiliki gambaran tentang teknik bertanam secara hidroponik, bukan? Hidroponik merupakan sistem atau teknik budidaya tanaman, khususnya untuk sayuran dan buah-buahan tanpa memakai media tanah. Jenis media yang dipakai dapat berupa rockwool, hidrogel, kerikil, arang sekam ataupun yang lainnya.

Metode ini menekan pemenuhan kebutuhan nutrisi untuk tanaman. Minimnya lahan produktif yang ada di perkotaan membuat budidaya tanaman dengan sistem hidroponik menjadi lebih diminati. Apalagi di masa pandemi saat ini kebutuhan nutrisi seperti sayuran dan buah-buahan semakin meningkat.

Hal yang paling penting dari sistem hidroponik ialah pemberian unsur hara sebagai sumber makanan untuk tanaman. Unsur hara tersebut berupa nutrisi A dan nutrisi B. Nutrisi A meliputi kalium, kalsium, zat besi serta nitrogen. Sedangkan nutrisi B yaitu fosfor, sulfur, magnesium, boron, seng, dan mangan. Beragam nutrisi tersebut telah banyak dijual di pasaran, jadi kalian tak perlu bingung lagi kan!

hidroponik sistem wick

Taukah kamu apa sistem hidroponik yang sering diimplementasikan saat ini? Yap, sistem hidroponik yang paling mudah, simple serta murah dan paling sering dipraktekkan adalah sistem sumbu dan sistem rakit apung. Apa sih itu? Jadi yang dimaksud dengan sistem sumbu adalah sistem yang mengadopsi cara kerja dari kompor minyak. Sistem ini juga sering disebut dengan wick system.

Sedangkan sistem rakit apung adalah sistem yang memakai bak berisi air yang berguna untuk meletakkan bibit tanaman di atas styrofoam yang dilubangi dengan jarak tertentu. Pada sistem ini diperlukan aerator guna mengontrol sirkulasi udara. Sebab tak ada jarak antara air dan akar tanaman. Untuk lebih jelasnya bagaimana cara kerja kedua sistem ini akan dibahas pada point selanjutnya. Jadi jangan sampai terlewat ya!

Hasil panen yang didapat dengan sistem hidroponik ini juga lebih bersih dan aman untuk dikonsumsi secara langsung. Mengapa? Karena pada sistem ini tak menggunakan pestisida atau bahan kimia berbahaya untuk mendukung proses perkembangbiakan tanaman. Selain itu teknologi ini juga lebih ramah lingkungan lho!

Keunggulan dan kelemahan hidroponik

Setiap sistem tentu memiliki keunggulan dan kelemahan, tak terkecuali dengan sistem bercocok tanam secara hidroponik. Lantas, apa saja keunggulan dan kelemahan dari sistem hidroponik ini? Silahkan simak jawabannya berikut ini ya!

keunggulan hidroponik

Keunggulan hidroponik

Ada beberapa keunggulan bercocok tanam secara hidroponik, antara lain:

  • Mudah, praktis, efisien

Bercocok tanam dengan sistem hidroponik ini memang lebih mudah, praktis dan efisien. Mengapa? Sebab petani tak memerlukan cacing, atau sejenisnya guna membuat tanah menjadi subur. Akan tetapi, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan maka tetap perlu memiliki dasar ilmu tentang hidroponik sebagai landasan awal.

  • Tidak boros lahan

Bila dibandingkan dengan metode bercocok tanam secara konvensional yang biasa kita temui perlu membutuhkan lahan yang luas. Namun, lain halnya dengan sistem yang satu ini karena dapat dimulai dari dalam rumah sekalipun.

  • Terhindar dari hama

Bercocok tanam dengan hidroponik seperti buah-buahan atau sayur-sayuran menjadi begitu menyenangkan. Mengapa demikian? Pasalnya tanaman menjadi tak mudah terserang hama serta penyakit.

Terutama untuk tanaman sayur-sayuran akan tumbuh menjadi lebih sehat dan bersih. Hal ini dikarenakan bercocok tanam secara hidroponik tak perlu memakai pestisida, dimana zat yang terkandung di dalamnya akan berbahaya jika sampai termakan oleh manusia.

  • Hasil panen lebih banyak

Kamu tak perlu khawatir lagi apabila minim lahan, sebab bercocok tanam dengan hidroponik di lahan yang sempit sekalipun bila ditekuni akan menghasilkan panen yang cukup banyak juga lho!

Apa alasannya bercocok tanam secara hidroponik hasil panen bisa lebih banyak? Alasan secara logis yaitu karena instalasi hidroponik bisa dilakukan secara bertingkat. Sehingga hal itu bisa membuat lahan menjadi lebih banyak menampung tingkat kuantitas tanaman.

Kelemahan hidroponik

Selain keunggulan, ternyata bercocok tanam dengan sistem hidroponik juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu:

  • Butuh modal yang cukup besar

Pada waktu pertama kali bercocok tanam dengan hidroponik pasti akan memerlukan modal yang tak sedikit. Apalagi bagi kamu yang ingin memulai budidaya tanaman dalam skala besar. Tentunya butuh modal yang cukup besar pula, bukan?

Modal tersebut untuk membeli kebutuhan proses instalasi seperti pipa, set bor, selang dan pompa akuarium. Selain itu juga masih ada beberapa perlengkapan pendukung yang perlu dibeli.

  • Sulitnya memperoleh perlengkapan

Walaupun telah banyak diketahui, namun perlengkapan pendukung sistem hidroponik baik itu bahan atau alat ternyata masih cukup langka ditemukan.

Tak semua toko pertanian menyediakan peralatan tersebut, karena biasanya akan ada toko khusus yang akan menjual berbagai kebutuhan alat dan bahan untuk sistem hidroponik.

  • Perlu ekstra ketelitian

Ternyata untuk bercocok tanam secara hidroponik pun tak bisa asal dilakukan. Sebab butuh ekstra ketelitian serta keyakinan, apa contohnya? Contohnya seperti para petani harus mengontrol nutrisi sekaligus pH atau tingkat keasaman pada tanaman secara berkala. Selain itu butuh perhitungan khusus untuk pemberian nutrisi bagi tanaman. Hal ini harus dilakukan demi  menghasilkan produk yang berkualitas.

  • Dibutuhkan keterampilan khusus

Selain dibutuhkan ketelitian yang lebih, bercocok tanam secara hidroponik ternyata juga butuh keterampilan khusus lho! Maksud keterampilan dalam hal ini yaitu keterampilan bercocok tanam, membibit, menyemai sampai keterampilan untuk proses perawatan tanaman itu sendiri.

Media tanam hidroponik

Bercocok tanam dengan metode hidroponik juga sering dikenal dengan sebutan “bertanam tanpa tanah”.  Pemakaian media tanah memang dihindari, sebab di dalam tanah hanya mengandung sedikit zat hara. Selain itu media tanah juga kerap kali menyebabkan beberapa gulma atau hama yang sukar untuk dibasmi dan membutuhkan proses pengerjaan tanah yang lebih baik lagi.

media tanam hidroponik

Tak hanya itu, ternyata bercocok tanam dengan media tanah terkadang tanaman yang di tanam harus berganti-ganti. Biasanya hanya dapat dipakai untuk sekali panen saja, serta tidak dapat menanam satu jenis tanaman saja yang bisa digunakan secara terus menerus.

Perlu kamu tau, jika media tanam yang bagus untuk hidroponik pasti harus mempunyai kriteria yang bagus pula. Adapun kriteria yang bagus diantaranya yakni:

  1. Mempunyai daya serap air yang tinggi
  2. Struktur di dalamnya gembur serta tak mengandung zat hara
  3. Tak mengandung garam dan harus memiliki kadar salinitas yang kecil
  4. Mempunyai tingkat keasaman alkalis, yakni memiliki pH antara 6-7
  5. Tak mengandung organisme yang bisa memancing timbulnya hama dan penyakit
  6. Di dalamnya ada kandungan kapur

Media tanam hidroponik dibagi menjadi 2 yakni media tanam organik dan media tanam non organik. Apa saja itu? Yuk, kita simak infonya lebih lengkap berdasarkan ulasan di bawah ini ya!

  1. Media tanam organik
  • Sabut kelapa

Media tanam hidroponik yang pertama adalah sabut kelapa. Cocopeat/ coir merupakan sebuah media tanam organik yang biasanya dibuat dari bahan serbuk sabut kelapa. Nah, itulah mengapa bahan yang satu ini disebut sebagai bahan yang ramah lingkungan.

media tanam hidroponik

Sabut kelapa mempunyai daya serap yang sangat tinggi terhadap air. Selain itu bahan ini juga memiliki kandungan pH yang rendah yaitu antara 5 sampai 6,5 sehingga mengakibatkan daya tahan tanaman menjadi lebih baik dan kuat.

  • Arang Sekam

Sekam bakar atau sering disebut pula sebagai arang sekam merupakan salah satu media tanam yang paling sering dipakai untuk bercocok tanam. Media ini tidak hanya dipakai untuk budidaya tanaman hidroponik saja, tetapi juga dipakai untuk menanam berbagai jenis tanaman di dalam pot.

media tanam hidroponik

Media bercocok tanam hidroponik menggunakan arang sekam ini ternyata memiliki daya ikat air yang sangat bagus. Selain itu juga didukung dengan aerasi yang cukup bagus pula. Tingkat derajat keasaman yang dimiliki oleh media organik ini relatif netral. Oleh karena itu, selain ramah lingkungan media ini juga cocok untuk pertumbuhan akar pada tanaman.

  • Serbuk Gergaji

Media organik selanjutnya ialah serbuk gergaji. Namun, khusus media yang ini hanya dapat dipakai sebagai media tanam bagi tanaman hidroponik tertentu saja. Tanaman tersebut biasanya membutuhkan intensitas kelembapan yang tinggi.

media tanam hidroponik

Apa saja contohnya? Contohnya seperti jamur, jamur biasanya membutuhkan kelembapan yang tinggi supaya dapat bertahan hidup dengan baik.

Tak hanya itu, serbuk gergaji ternyata bisa dipakai sebagai media tanam beberapa tanaman lainnya untuk melapisi bagian permukaan yang paling atas. Apa tujuannya? Tujuannya adalah untuk menjaga kelembapan udara dan air yang ada pada bagian tengah supaya tetap dalam kondisi yang baik.

  • Vermiculite

Mungkin media tanam yang satu ini masih terlalu asing di telinga para pembaca. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan vermiculite? Vermiculite yaitu sebuah media bercocok tanam secara hidroponik yang terbuat dari material bebatuan serta dipanaskan dalam temperatur tinggi.

media tanam hidroponik

Bahan ini juga mempunyai daya serap air yang cukup tinggi lho seperti bahan organik lainnya. Selain itu massa dari bahan ini juga relatif lebih berat dari pada perlite. Bebatuan ini umumnya dapat dipadukan dengan perlite dan perlu perbandingan tertentu.

  • Batang pakis

Media tanam organik yang terakhir adalah batang pakis. Biasanya batang pakis yang dipilih adalah yang sudah berwarna hitam. Mau tau apa alasannya? Alasannya adalah karena batang pakis yang berwarna hitam sudah berumur dan kering. Jadi lebih gampang untuk dibentuk menjadi potongan yang lebih kecil-kecil atau kerap disebut cacahan pakis.

media tanam hidroponik

Lantas, bagaimana kita bisa memperolehnya? Tenang, karena batang pakis siap pakai biasa dijual di beberapa toko pertanian. Media tanam ini juga sering digunakan untuk menanam anggrek di dalam pot.

Media tanam batang pakis ini juga mempunyai kelebihan, yaitu mudah mengikat air dan mempunyai sistem drainase dan aerasi yang bagus. Sehingga cocok digunakan untuk bertanam secara hidroponik.

Media tanam organik juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Apa saja itu? Mari kita simak uraian berikut ini!

Kelebihan media tanam organik

  • Proses aerasi terjadi lebih optimal
  • Kemampuan dalam menjaga derajat keasaman atau pH tinggi
  • Biasa dipakai untuk jenis irigasi drip
  • Bobotnya lebih ringan
  • Bagus untuk perkembangan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman
  • Kemampuan untuk menyimpan nutrisi dan air lebih optimal
  • Sangat pas digunakan untuk perkembangan akar tanaman

Kekurangan media tanam organik

  • Tingkat sterilitas media sukar untuk dijamin
  • Tidak tahan lama, karena hanya bisa dipakai beberapa kali aja
  • Tingkat kelembapan media cukup tinggi, sehingga mudah terkena serangan jamur, bakteri ataupun virus penyebab penyakit yang menyerang tanaman
  1. Media tanam non organik

Ada beberapa macam media tanam non organik diantaranya yaitu:

  • Perlite

Media tanam non organik yang pertama adalah perlite. Media ini biasanya dibuat dari batuan silika. Batu tersebut dipanaskan dahulu dengan temperatur yang tinggi. Perlite juga mempunyai aerasi yang baik.

media tanam hidroponik

Derajat keasaman atau pH yang dikandung cenderung bersifat netral. Selain itu memiliki massa yang sangat ringan, seperti styrofoam. Daya serap perlite pun sangat bagus, sehingga cocok dipakai sebagai penyangga akar serta berperan baik guna proses pertumbuhan akar.

Dalam metode hidroponik, perlite kerap dipadukan dengan cocopeat atau bahkan vermiculite, yang tentunya memakai perbandingan tertentu. Perlite banyak dijual dengan harga sekitar Rp 20 ribuan.

  • Rockwool

Media tanam hidroponik selanjutnya adalah rockwool. Media yang satu ini kerap kali dipakai dalam bercocok tanam secara hidroponik. Rockwool merupakan media tanam non organik yang dibuat dari material mirip busa. Sehingga bobotnya pun terasa sangat ringan serta mempunyai serabut yang halus.

media tanam hidroponik

Rockwool dibentuk dari kombinasi bebatuan diantaranya batu basalt, batu kapur, dan batu bara.  Bebatuan tersebut dipanaskan pada temperatur yang cukup tinggi yaitu mencapai 1600 derajat Celcius. Setelah batuan ini meleleh dan dingin maka akan terbentuk serat-serat halus. Nah, itu lah yang dipakai sebagai rockwool yang kemudian dipotong – potong sesuai dengan kebutuhan.

Salah satu alasan mengapa memilih rockwool sebagai media hidroponik adalah karena lebih higienis. Tanaman yang cocok menggunakan media tanam ini ialah sayur-sayuran. Sedangkan untuk buah-buahan lebih cocok memakai media expanded clay atau hidroton.

  • Hidroton

Hidroton atau sering juga disebut expanded clay merupakan produk yang berasal dari material tanah liat dan termasuk dalam media tanam non organik. Media ini berbentuk bulatan kecil dan dibuat melalui proses pemanasan pada temperatur yang mencapai lebih dari 1000 derajat Celcius.

media tanam hidroponik

Hidroton mempunyai ukuran yang bervariasi, ada yang berukuran 1 sampai 2,5 cm. Bahan ini dapat menyerap air serta nutrisi lainnya yang diperlukan oleh tanaman. Jadi nutrisi yang diperlukan oleh tanaman berasal dari bahan ini.

Bentuknya yang bulat seperti kelereng membuat bahan ini tak akan merusak akar. Hidroton memiliki kandungan pH netral jadi  kesehatan tanaman menjadi lebih stabil dan terjaga. Tak hanya itu saja, bahan ini juga bisa dipakai secara berulang-ulang lho!  Apabila ada lumut yang menempel, maka kamu hanya perlu mencucinya saja dan kemudian bisa dipakai kembali. Sangat praktis serta gampang diimplementasikan, bukan?

  • Pasir

Masih membahas mengenai media tanam anorganik. Pasir juga dapat dipakai sebagai media bercocok tanam secara hidroponik. Pasir yang biasa dipakai adalah pasir pantai atau pasir yang berasal dari pegunungan.

media tanam hidroponik

Kamu bisa melakukan proses pembibitan dengan media ini, dan jika dimasukkan ke dalam pot maka akan sangat cocok untuk ditempatkan di rumah. Bahkan kamu bisa menanam aneka tanaman bunga pada pot transparan dengan media pasir yang berwarna warni pasti itu sangat menarik sekali. Suasana rumah pun menjadi lebih nyaman dan segar. Apakah kamu tertarik mencobanya?

  • Kerikil

Siapa yang mengira jika bebatuan mungil ini bisa menjadi media tanam yang bagus untuk sistem hidroponik. Hal itu dikarenakan kerikil mempunyai pori-pori yang berukuran cukup besar, sehingga dapat mengalirkan nutrisi dan gas O2 secara merata bagi tanaman.

media tanam hidroponik

Selain itu media ini juga lebih gampang menjadi basah atau kering. Oleh sebab itu, intensitas penyiraman tanaman juga perlu disesuaikan dengan kondisi bahan.

Namun, apabila kamu tak mempunyai kerikil alami maka kamu bisa membeli kerikil sintesis yang mempunyai bentuk menyerupai batu apung. Bahkan dapat dikatakan jika kerikil sintesis ini merupakan bentuk penyempurnaan dari kerikil alami/ kerikil biasa. Karena semua keunggulan dari media tanam hidroponik diaplikasikan dalam kerikil sintesis ini.

  • Hidrogel

Apakah sebelumnya kalian pernah mendengar apa itu hidrogel? Ya, bagi kamu yang ingin menanam tanaman secara hidroponik yang di taruh dalam vas bunga, kamu bisa menggunakan hidrogel sebagai media tanam. Hidrogel merupakan sebuah gel yang mempunyai kemampuan untuk menyerap air dalam jumlah besar.

media tanam hidroponik

Bentuknya  bulat serta berwarna-warni tentu akan indah dipandang. Hidrogel biasa dijual dalam bentuk kemasan. Cara pemakaiannya pun cukup mudah, hanya perlu direndam dalam air sampai mengembang. Kemudian bisa diaplikasikan sebagai media tanam.

Hidrogel sangat cocok digunakan untuk media tanam aneka tanaman hias. Bila di masukkan dalam vas bunga transparan akan nampak apik serta membuat ruangan menjadi lebih berwarna dan segar. Tak hanya tanaman kecil saja, namun untuk tanaman yang berukuran cukup besar, juga bisa memakai media ini lho!

  • Spons

Selain digunakan untuk mencuci piring, spons ternyata juga bisa digunakan sebagai media tanam hidroponik. Pasalnya bahan ini mempunyai daya serap yang baik. Massanya yang ringan, namun saat disiram dengan air maka bahan ini akan menjadi solid, sehingga dapat menopang akar dengan kokoh.

media tanam hidroponik

Sayangnya, media tanam hidroponik ini tak dapat dipakai secara berulang-ulang. Alasannya yaitu karena teksturnya yang mudah hancur. Oleh sebab itu, jenis tanaman yang cocok dipadukan bersama spons yakni tanaman yang memiliki jarak panen relatif singkat.

Selain media tanam, ada hal lain yang perlu kamu perhatikan pula saat hendak bercocok tanam secara hidroponik. Hal itu adalah tempat untuk meletakkan media tanam tersebut. Kamu bisa memakai botol plastik bekas ataupun gelas plastik bekas air mineral.

Pastikan pula jika tempat dan media tanam pas, jadi apabila akar sudah tumbuh diharapkan media tanam tersebut dapat menopang akar dengan baik. Kamu bisa mendapatkan bahan-bahan tersebut di toko hidroponik terdekat atau jika tak ada kamu pun bisa membelinya secara online.

Seperti halnya pada media tanam organik, media tanam non organik juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Yuk simak infonya berikut ini ya!

Kelebihan media tanam non organik yakni:

  • Bersifat permanen, atau bisa digunakan dalam jangka panjang
  • Aerasi dan porus lebih optimal
  • Lebih terjamin tingkat strerilitasnya
  • Jarang dipakai sebagai inang untuk bakteri, virus ataupun jamur
  • Media tanam tak begitu lembab dan cepat menuntaskan air

Kekurangan

  • Bobot media lebih berat
  • Kurang bagus sebagai media perkembangbiakan organisme bermanfaat, contohnya seperti mikroba.
  • Terlalu cepat untuk menuntaskan air
  • Untuk proses pertumbuhan akar tak begitu baik

Macam-macam teknik menanam hidroponik

Sekarang ini hidroponik sudah memiliki metode pilihan. Mulai dari praktik yang paling sederhana sampai tingkat yang mempunyai kesulitan tinggi. Ada beberapa aspek yang perlu kamu perhatikan sebelum menerapkan metode bercocok tanam hidroponik ini. Aspek tersebut meliputi intensitas cahaya, temperatur di sekitar tempat perkembangbiakan tanaman, serta aspek yang paling utama adalah pemberian nutrisi yang tepat.

Bagi kamu yang masih pemula, hal yang harus diperhatikan yaitu air nutrisi yang diberikan harus benar-benar tepat, supaya dapat diserap dengan sempurna oleh tanaman. Jadi nggak boleh asal-asalan ya! Air disini berperan sebagai media penyalur nutrisi. So, meskipun ditanam pada batu, arang sekam, spons, hidrogel atau media yang lainnya itu tetap dikategorikan sebagai hidroponik.

Lantas, mengapa sebagian orang memilih bercocok tanam secara hidroponik dengan air?

Alasan yang pertama adalah karena air merupakan unsur penting yang diperlukan oleh tanaman. Air juga merupakan media paling bagus yang dapat melarutkan nutrisi esensial pengganti unsur hara pada tanah. Sehingga nantinya unsur hara akan lebih mudah terserap dan tercampur oleh akar karena bentuknya yang cair.

Sebenarnya kamu juga masih bisa memakai bahan lain selain air, namun nanti pada saat memberikan nutrisi untuk tanaman juga harus tetap diberikan dalam bentuk cair/ larutan. Jadi, apabila kamu nggak mau ribet, pilih saja air sebagai media tanam karena lebih praktis dan efisien.

Nah, setelah kita membahas macam-macam media tanam hidroponik pada point sebelumnya, jika diklasifikasikan berdasarkan media tanamnya maka hidroponik dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

  1. Teknik hidroponik kultur air

Apa yang dimaksud dengan kultur air? Kultur air merupakan teknik hidroponik dengan memakai media air secara penuh. Jadi sebagian besar media tanamnya ialah air. Apabila bibit telah siap tanam, maka bibit akan diletakkan dalam pot, kemudian ditaruh di air yang mana di dalamnya telah dicampur dengan nutrisi. Teknik ini dibagi menjadi beberapa jenis antara lain:

Wick system

Teknik yang pertama adalah wick system. Teknik ini disenangi karena proses pembuatan lebih gampang serta bahan-bahan yang digunakan harganya lebih terjangkau. Bahkan kalian juga bisa memakai barang-barang bekas lho! Simak alat dan bahan serta langkahnya berikut ini.

Alat dan bahan:

  • Botol bekas air mineral
  • Alat pemotong (pisau atau gunting)
  • Kain flanel atau sumbu kompor
  • Alat untuk membuat lubang (solder atau paku)
  • Air nutrisi

Langkah kerja:

  • Langkah pertama potong botol menjadi dua bagian
  • Kemudian lubangi tutup botol tersebut
  • Langkah selanjutnya gabungkan kedua bagian botol itu. Caranya yaitu membalik bagian ujung/ moncong botol mengarah ke bawah
  • Lalu pasang sumbu kompor/ kain flanel pada bagian lubang tutup botol. Pastikan agar sumbu dapat menyerap air
  • Letakkan bibit tanaman di atas botol dengan menambahkan sedikit tanah
  • Terakhir isi bagian bawah botol dengan menggunakan air nutrisi

Nutrient Film Technique (NFT)

Teknik yang kedua ini adalah cara yang paling familiar dipakai oleh banyak orang untuk mengaplikasikan metode bercocok tanam hidroponik. Bagaimana caranya? Mari baca dengan seksama uraian berikut ini ya!

Cara menanam dengan NFT yaitu:

  • Untuk langkah pertama siapkan beberapa pipa atau talang dari pompa
  • Kemudian lubangi bagian pipa sesuai dengan panjang yang dibutuhkan
  • Pastikan jarak antara lubang yang satu dengan lubang yang lain sama
  • Langkah selanjutnya susun pipa-pipa tersebut menjadi tempat untuk menanam tanaman hidroponik
  • Tak lupa siapkan pula penampung pada ujung pipa dengan posisi lebih rendah
  • Lalu pasang pompa sebagai jalan air nutrisi untuk tanaman supaya alirannya lebih maksimal

Perlu kamu ketahui jika cara NFT ini mempunyai konsep dasar berupa menanam akar tanaman tumbuh, khususnya pada bagian lapisan nutrisi yang tak begitu dalam. Selain itu untuk menjaga sirkulasi supaya tanaman tetap bisa memperoleh nutrisi, O2 serta air dengan baik dan cukup.

Irigasi tetes

Selanjutnya adalah teknik irigasi tetes. Pengertian irigasi tetes ialah teknik yang memakai selang atau pipa sebagai tempat untuk mengalirkan nutrisi. Apa bedanya dengan teknik NFT? Bedanya yaitu pada irigasi tetes, tanaman bukan ditanam di dalam pipa melainkan pada tempat atau pot terpisah. Nutrisi yang dialirkan dari pipa tersebut memakai selang yang kemudian akan menuju pada tempat tanam yang telah disiapkan.

Kolam terapung

Teknik ini juga sering dipraktekkan di Indonesia, sebab caranya cukup mudah. Kamu hanya perlu meletakkan tanaman pada net pot, kemudian ditata di atas gabus yang sebelumnya telah dilubangi dengan jarak tertentu. Dan selanjutnya gabus tersebut dimasukkan ke dalam kolam air yang telah dicampur dengan nutrisi.

  1. Teknik hidroponik kultur agregat

Teknik kultur agregat yaitu sebuah teknik yang memakai media tanam selain tanah, namun bukan air. So, dengan kata lain seperti yang telah tertulis pada pembahasan di atas, bahwa sepanjang media yang dipakai tanpa tanah, maka tetap disebut dengan hidroponik.

Media tanam yang biasa digunakan pada teknik ini dapat berupa media organik atau non organik seperti yang sudah kita bahas secara detail pada point sebelumnya. Jadi sudah cukup jelas ya!

  1. Teknik hidroponik aeroponik

Teknik yang terakhir adalah teknik aeroponik. Sebenarnya teknik ini masih jarang diimplementasikan di Indonesia. Mau tau alasannya? Alasannya cukup simple,  karena teknik ini ternyata cukup sukar dan butuh biaya yang besar.

Teknik ini memerlukan peralatan yang tak murah serta instalasinya pun tak mudah. Perlu modal serta tenaga yang pasti bukan sedikit lagi jumlahnya. So, bagi kita hal ini sangat sukar untuk dijangkau.

Teknik aeroponik merupakan teknik yang memakai cara disemprotkan. Jadi nutrisi yang berupa cairan disemprotkan pada bagian akar tanaman secara bertahap. Hal itu yang menjadi alasan mengapa teknik ini disebut aeroponik, karena memakai tekanan angin guna menyemprotkan nutrisi pada tanaman.

Bagaimana cara memasarkan hasil panen hidroponik?

Nah, mungkin pertanyaan yang satu ini juga sempat terlintas di benak kalian. Padahal untuk memasarkan hasil budidaya hidroponik sangat luas juga lho jangkauannya. Tak ada bedanya dengan cara memasarkan hasil panen dengan sistem konvensional. Berikut mari kita simak beberapa cara memasarkan hasil panen hidroponik yaitu:

  1. Menawarkan langsung dan membuat kartu nama

Kamu bisa mendatangi secara langsung ke beberapa lokasi seperti rumah makan, hotel, cafe, pengusaha catering atau bahkan rumah sakit dengan membawa beberapa contoh sayuran atau buah-buahan hasil panen kamu. Yang penting jangan sampai lupa untuk memberikan kartu nama, bertuliskan nama serta alamat tempat tinggalmu ya!

  1. Memasarkan lewat media sosial

Langkah kedua ini sangat mendukung banyak orang untuk mau berkunjung ke kebun hidroponik milik kamu. Ingat, hal ini juga perlu kamu lakukan secara rutin, misalnya dengan memposting secara rutin 3 kali seminggu pada timeline akun media sosial milikmu.

  1. Menitipkan hasil panen ke penjual sayur

Cara yang ketiga ini merupakan opsi terakhir jika di kebun kamu masih banyak sayur yang belum laku. Usahakan menjual sayur yang sudah tua lebih dahulu. Jika sudah laku maka kamu bisa berbagi hasil dengan tukang sayur.

Jadi itulah pembahasan kita mengenai sejarah hidroponik, belajar hidroponik, budidaya hidroponik. Semoga artikel ini menambah wawasan bagi kamu yang ingin berkecimpung dalam dunia hidroponik. Selamat mencoba ya!

5 tanggapan pada “Sejarah Hidroponik, Belajar Hidroponik, Budidaya Hidroponik, Simak Infonya Berikut ini!”

  1. Pingback: Teknik Budidaya Tanaman dengan Media Tanam Hidroponik | Yuk Usaha

  2. Pingback: 7 Jenis Sistem Hidroponik Paling Populer di Indonesia | Yuk Usaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *