7 Jenis Sistem Hidroponik Paling Populer di Indonesia

Sistem Hidroponik belakangan ini menjadi tren bercocok tanam yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Pasalnya bercocok tanam secara hidroponik disebut-sebut lebih menyenangkan ketimbang bercocok tanam biasa yang menggunakan tanah.

Seiring berjalannya waktu cara menanam tanaman kini dapat lebih modern, sehingga dapat dilakukan dengan berbagai cara dan salah satunya menggunakan metode hidroponik ini. Metode hidroponik sendiri telah dikenal luas dan digunakan oleh berbagai kalangan.

Jenis Sistem Hidroponik Paling Populer di Indonesia

Metode menanam yang menggunakan bantuan air ini, tidak ditanam di atas tanah seperti cara menanam tanaman biasa. Karena itulah metode bercocok tanam menggunakan air ini dinilai memiliki banyak manfaat, dibandingkan bercocok tanam menggunakan tanah pada umumnya.

Sehingga saat ini telah banyak para pencinta tanaman dan para Petani di Indonesia yang menerapkan metode ini. Metode budidaya tanaman yang satu ini, dinilai mampu menghasilkan tanaman-tanaman yang berkualitas tinggi.

Pengertian Sistem Hidroponik

Menurut berbagai sumber terpercaya, Hidroponik berasal dari kata “Hydros” dan “Ponos”. Sedangkan menurut sumber lainnya, hidroponik lebih tepat berasal dari kata Hudor dan Ponos. Hudor sendiri memiliki arti “air” dan Ponos yakni “bekerja”.

Pengertian Sistem Hidroponik

Sehingga apabila kedua kata ini disambungkan dapat membentuk kata Hydroponic yang artinya bekerja dengan air. Untuk lebih spesifik lagi, hidroponik memiliki arti yang lebih simpel yaitu sistem bercocok tanam menggunakan air.

Karena itulah metode hidroponik ini tidak menggunakan tanah, melainkan menggunakan larutan nutrisi yang didukung oleh beragam media tanam lainnya. Media tanam tersebut misalnya rockwool hingga serbuk kayu, yang berfungsi sebagai pengganti media tanam tanah.

Jenis Tanaman yang dapat Dibudidayakan Menggunakan Metode Hidroponik

Meski tidak semua tanaman dapat dibudidayakan menggunakan metode ini, terdapat cukup banyak jenis tanaman yang dapat dibudidayakan menggunakan metode hidroponik ini. Seperti sayuran daun, sayuran buah, buah-buahan, tanaman hias, tanaman obat hingga pertamanan.

Dalam bercocok tanam menggunakan metode hidroponik ini, salah satu faktor penting yang harus diperhatikan yaitu semua jenis tanaman haruslah tercukupi nutrisinya. Sebab metode ini tidak dapat menggunakan unsur hara dari tanah secara langsung.

Jenis Tanaman yang dapat Dibudidayakan Menggunakan Metode Hidroponik

Di Indonesia metode budidaya tanaman hidroponik mulai digunakan sejak tahun 1980 silam. Kemudian metode hidroponik marak dikembangkan hingga saat ini, terutama untuk mengembangbiakkan tanaman sayuran, sayuran daun dan juga sayuran buah.

Kelebihan Metode Hidroponik

Metode bercocok tanam dengan cara memanfaatkan air untuk jalur nutrisi utama ini, bisa dibilang sangat cocok bagi siapapun. Karena metode hidroponik memiliki berbagai kelebihan sebagai berikut:

Kelebihan Metode Hidroponik

  1. Dapat Dilakukan di Mana Saja

Karena metode hidroponik ini hemat tempat, maka pengelolaannya dapat dilakukan di mana saja. Meski di lahan sempit sekalipun, tanaman hidroponik dapat berkembang dengan baik. Sehingga tak perlu lahan yang besar hingga berhektar-hektar untuk memulainya.

  1. Hasil Panen Cenderung Lebih Banyak

Dengan metode hidroponik ini, tanaman yang dipanen dapat panen lebih banyak. Selain itu tanamannya akan lebih mudah saat dipanen dibandingkan metode penanaman biasa.

  1. Bebas Pestisida dan Zat Kimia Lainnya

Tidak seperti bercocok tanam pada umumnya, dengan menggunakan metode hidroponik tanaman dapat berkembang lebih baik dan hasilnya lebih berkualitas. Sehingga tidak dibutuhkan penggunaan pestisida atau zat kimia lainnya yang berbahaya bagi kesehatan.

  1. Menguntungkan dalam Segi Komersial

Hasil panen dari metode hidroponik sudah tak diragukan lagi kualitasnya. Sehingga dalam segi komersial, Anda berpotensi mendapatkan keuntungan yang cukup menjanjikan.

  1. Sistem yang Lebih Simpel dan Efisien

Sebagai metode bercocok tanam dengan beberapa jenis yang populer di Indonesia, metode hidroponik dikenal memiliki sistem yang lebih portable atau mobile dengan pengelolaan yang lebih modern.

  1. Waktu Pembudidayaan hingga Panen Sangat Efisien

Mengelola tanaman hidroponik membutuhkan waktu yang lebih efisien, sehingga Anda dapat menyisihkan sedikit waktu luang untuk pengelolaannya. Proses tersebut berlaku sejak masa tanam hingga waktu panen nanti.

  1. Pengelolaan yang Lebih Simpel

Karena metode hidroponik tidak menggunakan tanah, dalam pengelolaannya dapat lebih simpel. Selain simpel, tentu metode bercocok tanam menggunakan air ini jauh lebih bersih dalam pengelolaannya karena tidak adanya media tanah.

  1. Perkembangan Tanaman Lebih Stabil

Tumbuh kembang tanaman lebih cepat dan stabil, terlebih apabila Anda dapat mengukur kebutuhan nutrisi yang terlarut dalam air pada semua jenis tanaman. Sehingga metode ini lebih efisien ketimbang menggunakan media tanam tanah.

  1. Penggunaan Air Lebih Stabil

Tentu saja karena metode bercocok tanam ini menggunakan media utama air sebagai nutrisinya. Sehingga penggunaan airnya dapat lebih efisien dan teratur. Di beberapa sistem, sisa air yang dikeluarkan dapat ditampung lagi dan nantinya dapat dipompa agar masuk kembali ke media tanam.

  1. Hobi Bercocok Tanam yang Bermanfaat

Hobi bercocok tanam dibarengi dengan penggunaan metode hidroponik, dapat bermanfaat bagi siapa saja. Hasil panen dari hobi bercocok tanam ini dapat memenuhi kebutuhan gizi Anda dan keluarga. Sebab hasil panen dari metode hidroponik dinilai lebih berkualitas.

  1. Kelebihan Lainnya dari Metode Hidroponik

Penggunaan nutrisi dalam proses pengelolaannya dapat diaplikasikan secara efisien. Metode ini tidak bergantung pada cuaca atau musim karena dapat dilakukan di dalam rumah sekalipun dengan bantuan lampu.

Hasil, bentuk metode hidroponik ini akan terlihat benar-benar indah, tetapi juga asri beserta kompleks. Dan terakhir, kelebihan dari sistem hidroponik ini risiko terkena penyakit atau hamanya terbukti jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan sistem bercocok tanam menggunakan tanah.

Tempat yang Tepat Untuk Bercocok Tanam Metode Hidroponik

Bercocok tanam menggunakan metode hidroponik dapat dilakukan di mana saja, selama instalasi hidroponik yang dilakukan sudah benar. Contohnya di pekarangan atau halaman rumah, hingga di dalam ruangan sekalipun adalah salah satu tempat yang tepat.

Tempat yang Tepat Untuk Bercocok Tanam Metode Hidroponik

Sebab metode hidroponik ini dapat berkembang dengan baik, selama terdapat pencahayaan yang baik. Pencahayaan tersebut yaitu sinar matahari atau dapat pula digantikan dengan cahaya buatan menggunakan lampu khusus untuk area di dalam ruangan.

Sebagai catatan penting, bahwasanya metode hidroponik di dalam ruangan ini dapat memudahkan Anda untuk dapat mengontrol kelembapan secara rutin. Hal ini penting dilakukan karena dapat menekan pertumbuhan bakteri.

Memulai Bercocok Tanam Menggunakan Metode Hidroponik

Untuk memulai bercocok tanam menggunakan metode hidroponik tidak terlalu sulit. Sebab berhasil atau tidaknya metode ini, terletak pada pemilihan sistem serta prosedur yang baik dan tepat.

Perawatan rutin terhadap tanaman hidroponik wajib dilakukan sejak pembibitan hingga masa panen tiba. Untuk seorang pemula, bercocok tanam menggunakan metode ini dapat dilakukan secara perlahan hingga berhasil.

Memulai Bercocok Tanam Menggunakan Metode Hidroponik

Setelah itu, Anda pun dapat menuju ke level selanjutnya yang mana dapat membuat hasil panen lebih bagus dan berkualitas apabila telah terbiasa mengelola tanaman hidroponik ini. Sehingga bukan tak mungkin apabila kelak Anda dapat menjadi seorang pakar hidroponik.

Tentunya setelah menjadi pakar hidroponik Anda harus memantau secara rutin kadar debit air yang terdapat pada bak penampungan air yang berisi nutrisi. Lalu mengukur kadar PPM pada air, mengetahui nutrisi yang sesuai untuk setiap tanaman dan lain sebagainya.

Kesimpulannya untuk dapat memulai bercocok tanam menggunakan metode hidroponik ini, Anda dapat bercocok tanam dengan memilih sistem yang tepat bagi tanaman yang hendak dibudidayakan.

Perbedaan Hidroponik Berdasarkan Media Tanamnya

Apabila menuju ke proses prakteknya, metode yang satu ini cukup mudah dilakukan. Umumnya terdapat dua jenis teknik utama yang dikenal dalam pengembangan metode ini. Adalah jenis hidroponik substrat dan jenis non-substrat.

Penggunaan media tanam yang padat seperti halnya hidroton, yaitu salah satu bentuk hidroponik substrat. Hidroponik substrat sendiri metode tanamnya hampir sama dengan bercocok tanam biasa dengan menggunakan tanah dan pot.

Perbedaan Hidroponik Berdasarkan Media Tanamnya

Kemudian jenis media tanam yang nantinya digunakan biasanya terbuat dari arang sekam, rockwool, cocopeat, hidroton hingga serbuk kayu. Proses pemberian nutrisi pada metode ini dilakukan menggunakan irigasi tetes, yang umumnya dapat diaplikasikan dengan cara membasahi area di sekitar tanaman.

Dan untuk hidroponik non-substrat, metodenya menjurus pada budidaya dengan metode  meletakkan akar tanaman ke air yang telah diberikan nutrisi yang kemudian disirkulasi. Nutrisi hidroponik umumnya dapat dibuat sendiri atau dapat dibeli dalam bentuk serbuk dan nantinya dicampur dengan air.

Jenis-Jenis Metode Hidroponik yang Penting Untuk Diketahui

Agar bercocok tanam menggunakan metode hidroponik berhasil, Anda wajib memilih sistem yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tanaman Anda. Terdapat beberapa metode hidroponik dengan kelebihannya masing-masing yang dapat Anda pilih.

Berikut ini adalah jenis-jenis metode hidroponik yang dapat Anda pilih sesuai kebutuhan:

  1. Hidroponik Sistem Sumbu / Wick System

Metode hidroponik dengan sistem sumbu atau wick system ini sesuai dengan namanya. Sebab hidroponik sistem sumbu menggunakan sumbu untuk dapat menyalurkan larutan nutrisi ke seluruh akar tanaman.

Di antara jenis-jenis metode hidroponik lainnya, sistem sumbu ini dinilai paling mudah dan sederhana. Sehingga cocok untuk pemula yang ingin memulai bercocok tanam menggunakan metode hidroponik.

Hidroponik Sistem Sumbu / Wick System

Sistem sumbu adalah sistem pasif yang sederhana dan tidak menggunakan listrik. Karenanya dalam hidroponik sistem sumbu, akar tanaman tidak dapat dicelupkan secara langsung ke dalam air.

Melainkan digunakan sumbu sebagai perantara yang notabene nya mudah menyerap air. Uniknya meski akar tidak dicelupkan secara langsung ke dalam air, proses penyerapan setiap nutrisinya stabil dan teratur.

Hal ini disebabkan oleh gaya kapilaritas air yang terdapat pada sumbu. Salah satu ujung sumbu tersebut menyentuh air nutrisi, sedangkan ujung sumbu lainnya menyentuh akar tanaman. Sistem sumbu membuat akar tanaman menyerap udara dan larutan nutrisi secara bersamaan.

Dengan begini dapat dipastikan bahwa tanaman akan mendapatkan pasokan udara dan nutrisi yang cukup. Selain itu, saat cadangan air nutrisi yang terdapat pada tempat penampungan air hampir habis, dapat diisi secara manual tanpa harus menggunakan pompa air seperti sistem lainnya.

Hidroponik sistem sumbu dinilai paling sederhana, karena dapat menggunakan botol air mineral sekalipun yang dapat dibelah menjadi dua bagian. Bagian tersebut nantinya dapat digunakan sebagai wadah tanaman.

Sehingga dengan begitu, tidak memerlukan tempat penampungan air berupa bak atau loyang. Teknik tersebut umumnya untuk 1 botol setara dengan 1 tanaman. Karenanya daya tarik dari sistem sumbu ini tertuju pada kesederhanaan dan kemudahan nya ini.

Jenis hidroponik sistem sumbu ini sangat cocok bagi Anda yang masih pemula. Karena misalnya saja Anda dapat membuat sistem ini sendiri, secara mudah dan cepat dengan budget ekonomis. Dalam sistem sumbu, Anda pun tidak akan kerepotan dalam segi pengelolaan.

Sedangkan untuk media tanam sistem ini di antaranya adalah; cocopeat, hidroton, sekam bakar, rockwool dan juga serat atau serbuk kulit buah kelapa. Sedangkan tanaman yang cocok untuk ditanam menggunakan sistem sumbu antara lain; kangkung, sawi, seledri, dan juga pakcoy.

Kelebihan sistem sumbu / wick system:

  • Semua jenis tanaman akan mendapatkan suplai air dan nutrisi secara teratur.
  • Peralatan untuk membuat sistem sumbu terbilang ekonomis dan mudah didapat.
  • Perawatannya sangat mudah dan tidak perlu sering-sering disiram, karena cukup 4 atau 5 hari sekali Anda dapat menambah air dan nutrisi yang baru.
  • Tidak tergantung pada aliran listrik, karena sistem sumbu tidak memerlukan sistem regulasi air dengan pompa air listrik.

 

  1. Hidroponik Sistem Rakit Apung / Floating Hydroponic System (FHS)

Selanjutnya adalah sistem hidroponik jenis rakit apung atau Floating Hydroponic System (FHS). Sistem yang satu ini adalah sistem budidaya tanaman yang biasanya dikhususkan untuk sayuran.

Sistem rakit apung umumnya menggunakan pola penanaman dengan cara menancapkan tanaman ke lubang-lubang yang terdapat pada styrofoam yang mengapung layaknya rakit di atas permukaan larutan nutrisi.

Hidroponik Sistem Rakit Apung / Floating Hydroponic System (FHS)

Itulah sebabnya sistem ini disebut dengan sistem rakit apung. Umumnya styrofoam tersebut berada di dalam suatu bak penampungan atau juga kolam. Hal ini dilakukan agar akar tanaman terapung atau bahkan terendam dalam larutan nutrisi tadi.

Nah, metode yang satu ini pertama kali dikembangkan oleh Jensen pada tahun 1980 di Arizona, dan juga oleh Massantini pada tahun 1976 di Italia. Dalam sistem ini, larutan nutrisinya tidak disirkulasikan saja, akan tetapi dibiarkan saja pada bak penampungan.

Hal ini pun dilakukan agar nantinya dapat digunakan lagi, caranya dengan mengontrol kepekatan larutan yang ada di dalamnya dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Hal ini dapat dilakukan dengan seksama dan berkala.

Sebab dalam waktu yang sudah cukup lama tersebut, nantinya akan terjadi proses pengkristalan dan juga pengendapan nutrisi yang terdapat di dasar kolam. Proses ini dapat mengganggu tumbuh kembang tanaman yang hendak dibudidayakan.

Supaya styrofoam dapat bertahan lama, bagian atasnya dapat dilapisi dengan plastik mulsa atau juga aluminium foil secara merata. Sebab aluminium foil ini dapat memantulkan cahaya yang bertujuan untuk meminimalisir risiko tanaman disinggahi oleh hama.

Rata-rata bak penampungan air nutrisi memiliki kedalaman sekitar 10 – 20 cm. Dan untuk kedalaman larutan nutrisinya sekitar 6 – 10 cm. Agar suplai oksigen terus meningkat ke akar tanaman, gunakanlah alat tambahan.

Misalnya pompa akuarium atau powerhead yang dilengkapi nepel udara agar nantinya dapat ditempatkan di dalam bak penampungan air nutrisi.

Tanaman yang tepat untuk ditanam pada sistem rakit apung biasanya pertumbuhannya terbilang cepat. Tanaman tersebut di antaranya; selada, kangkung, jenis sawi-sawian seperti sawi caisim, sawi pakcoy, sawi bakso, sawi bunga, hingga sawi petsai.

Kelebihan sistem rakit apung/floating hidroponic system:

  • Tanaman akan mendapatkan suplai air dan juga nutrisi secara berkelanjutan.
  • Sistem rakit apung memiliki sistem yang dapat menghemat air dan nutrisi dengan baik.
  • Akar dapat tumbuh secara maksimal, yang membuat tanaman dapat tumbuh secara optimal.
  • Perawatannya cukup mudah karena tidak perlu melakukan penyiraman.
  • Biaya instalasi hidroponik sistem rakit apung cukup murah.

 

  1. Hidroponik Sistem Pasang Surut / Ebb and Flow System

Sistem pasang surut atau Ebb and Flow System dikenal dengan teknik pemompaannya yang merupakan faktor utama dalam sistem pasang surut ini. Cara kerjanya yakni air, oksigen, dan nutrisi dari bak penampungan lalu dipompa untuk sampai ke media agar membasahi akar.

Pada proses pemompaan tersebut disebut dengan proses pasang. Setelah selang beberapa waktu, air nutrisi kemudian turun kembali ke bak penampungan yang proses ini disebut dengan proses surut.

Dalam sistem pasang surut ini, posisi pompa air biasanya dibenamkan pada larutan nutrisi dalam penampungan. Setelah itu dihubungkan dengan pengatur waktu atau timer. Karena jeda waktu pada proses ini dapat diatur sesuai dengan kebutuhan masing-masing tanaman.

Hidroponik Sistem Pasang Surut / Ebb and Flow System

Alhasil jenis tanaman satu dan lainnya memiliki setting timer yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini perlu dilakukan agar setiap tanaman yang ditanam tidak kekurangan air atau tergenang banyak air.

Jenis hidroponik sistem pasang surut ini dapat menggunakan berbagai jenis media pertumbuhan yang mendukung. Namun, untuk mendapatkan hasil yang optimal, sangat disarankan dapat memilih media tanam yang mumpuni yakni dapat menampung air lebih lama.

Karena dengan cara ini dapat menjadi antisipasi apabila sewaktu-waktu timer mati atau bermasalah dikarenakan gangguan listrik. Sehingga akar tanaman dapat bertahan lebih lama karena ada sisa air yang tersimpan di dalam media tanam tersebut.

Dan untuk media tanam sistem pasang surut yang tepat diantaranya; hidroton, cocopeat, kerikil atau juga rockwool. Media tersebut dapat diandalkan untuk menampung air dalam jangka waktu yang lama, karena ini antisipasi jika tanaman kering akibat kekurangan air dan nutrisi.

Kelebihan dari sistem pasang surut atau ebb and flow system:

  • Setiap tanaman mendapatkan cukup suplai air, oksigen, dan nutrisi secara berkala.
  • Larutan nutrisi yang tersedia dapat dipakai secara berulang-ulang.
  • Oksigen disuplai lebih baik, karena terbawa oleh proses air pasang dan surut.
  • Metode instalasi hidroponik ini tergolong mudah dikerjakan.
  • Mendukung berbagai jenis media tumbuh.
  • Segi perawatannya cukup mudah, karena tidak memerlukan penyiraman setiap hari.
  • Dapat menggunakan pompa air kecil untuk dapat menjalankan sistem pasang surut air nutrisi.

 

  1. Sistem Irigasi Tetes / Drip Irrigation System

Drip Irrigation System atau hidroponik sistem irigasi tetes ini, dikenal memiliki teknik penyaluran larutan nutrisi dengan menggunakan selang. Oleh sebab itu sistem irigasi tetes dinilai sebagai salah satu jenis hidroponik yang cukup sederhana.

Karena sistem irigasi tetes memiliki sistem pemberian air dan juga nutrisi dalam bentuk tetesan. Nah, tetesan tersebut akan menetes secara berkala sepanjang waktu. Tetesan inilah yang nantinya diarahkan tepat ke akar, agar tanaman dapat menyerap air dan nutrisi yang dibutuhkan.

Agar tetesan tidak menggenangi tanaman, maka kecepatan dari tetesan nutrisi ini dapat diatur sedemikian rupa sesuai kebutuhan. Secara mudah, sistem irigasi tetes ini dapat diibaratkan mirip seperti infus cara kerjanya.

Sistem Irigasi Tetes / Drip Irrigation System

Sistem irigasi tetes memiliki 2 jenis model yang dapat digunakan seperti recovery dan non-recovery. Model recovery membuat larutan nutrisi dapat dikembalikan ke penampungan air, dan model non-recovery larutan nutrisinya dibiarkan mengalir ke saluran pembuangan.

Nantinya nutrisi yang dibutuhkan untuk sistem ini dibuat menyesuaikan dengan kadar nutrisi tanaman tersebut. Sehingga ada pula pengolahan nutrisi dengan kadar pelarutan yang tidak encer. Tanaman hidroponik sejatinya memiliki beberapa unsur yang hanya membutuhkan air.

Oleh karena itu sistem irigasi tetes ini sangatlah baik untuk pengembangan nutrisi tanaman. Anda dapat memulainya dengan bahan- bahan yang terjangkau. Lebih baik memulai dengan tanaman- tanaman berbuah sayuran yang simpel untuk uji coba contohnya tomat atau cabai.

Terlebih tomat itu dapat dilihat langsung perkembangannya sesuai diameter dan warnanya. Jadi Anda dapat mengetahui tingkat keberhasilan atas peralatan hidroponik yang digunakan. Membuat sistem irigasi tetes ini sedikit memakan biaya.

Terlebih untuk alat penghitung dan pengatur waktu tetes. Karena penghitung waktu ini cukup sedikit memiliki harga lebih. Namun ketersediaannya dapat didapatkan di toko online atau toko listrik di daerah masing- masing.

Sistem hidroponik jenis ini tentu lebih efisien untuk mengatur nutrisi secara merata. Terkadang banyak petani yang mengatakan bahwa metode hidroponik irigasi tetes ini anti gagal. Karena alat yang digunakan dalam metode ini tidak juga terlalu banyak.

Bila Anda hendak membudidayakan tanaman yang berukuran besar, maka pembuatan sistem irigasinya pun cukup banyak. Sehingga terkadang tanaman besar akan cenderung tumbuh lebih lama.

Namun bila Anda memiliki modal yang cukup, maka hal tersebut tidak akan menjadi kendala. Mengenai alat yang dibutuhkan untuk sistem irigasi tetes ini sangatlah cukup banyak. Namun Anda dapat menemukan penjual yang memang sudah menyediakannya dalam satu paket.

Paket tersebut berisi peralatan yang dibutuhkan untuk membuat sistem irigasi ini. Namun saat ini sudah banyak pula para pengembang yang telah berbagi ilmu. Sehingga Anda dapat membuatnya sendiri.

Alat- alat tersebut tentunya bisa didapatkan di toko listrik. Terlebih alat untuk menghitung waktu tetesan yang dinamakan “Timer Digital Irigasi”. Berkaitan dengan pengatur waktu irigasi, bahwa alat ini sudah menjadi alat standarisasi yang dibutuhkan.

Para pengembang irigasi hidroponik ini sangat dimudahkan dengan alat ini. Meskipun alat ini dapat menjadi alat yang mungkin paling mahal untuk membangun sistem irigasi tetes. Rata- rata alat pengatur waktu tetes ini dibanderol di atas 200 ribu ke atas.

Biasanya lebih mahal berarti alat tersebut lebih canggih dan efektif. Karena alat ini merupakan alat digital yang dapat diatur sesuai kebutuhan. Dengan alat pengatur digital tetes ini, Anda dapat membangun sistem otomatis yang baik.

Pengaturan waktu dapat disesuaikan dan ditentukan berdasarkan jam sampai hari. Oleh karenanya sistem irigasi tetes ini dapat disebut juga sebagai salah satu metode hidroponik yang cukup canggih.

Kelebihan irigasi tetes / drip irrigation system:

  • Dengan metode hidroponik irigasi tetes ini mampu memberikan penghematan terhadap konsumsi air. Karena dengan sistem irigasi tetes ini Anda lebih mudah untuk mengatur kadar air beserta nutrisinya. Sehingga tanaman dapat tumbuh sesuai ekspektasi.
  • Dengan sistem sirkulasi air yang merata, otomatis berpengaruh terhadap kualitas sayur dan tanaman. Karena sistem ini akan memberikan kadar yang sesuai dengan yang diatur.
  • Hama gulma tentu tidak akan dapat bertumbuh dalam sistem irigasi tetes ini. Hal tersebut disebabkan karena area perairannya sangatlah kecil. Sehingga tanaman atau sayuran dapat tumbuh maksimal.
  • Dengan metode hidroponik ini, tentu mampu membuat tanaman tersebut tetap segar secara merata. Para pengembang biasa menyebutnya sistem anti tanaman stress. Karena nutrisi yang dibutuhkan sudah dapat diatur sesuai kadar kebutuhan tanaman tersebut. Terlebih atas kebutuhan kadar air untuk setiap tanaman.
  • Sistem ini lebih memungkinkan untuk digunakan bagi pemula karena terdapat otomatisasi yang baik. Dengan adanya peralatan hidroponik seperti pengatur waktu, tentu mempermudah perawatan. Anda tidak perlu khawatir untuk memberi asupan air dan nutrisi bila saja lupa.
  • Sistem irigasi tetes ini dapat dicoba untuk skala kecil dengan tanaman atau sayuran sederhana. Sehingga memungkinkan bila membuatnya di dalam kamar atau ruangan tertutup. Terlebih dapat mengakali akses udara dan pencahayaannya.

 

  1. Metode Nutrient Film Technique (NFT)

Sistem hidroponik yang satu ini merupakan sistem yang sudah banyak digunakan. Terlebih untuk kebutuhan bisnis dan juga kebutuhan berskala besar. Oleh karena itu metode hidroponik yang satu ini dapat dikatakan sebagai metode yang sudah teruji dan terbukti sangat berhasil.

Kepopuleran dari metode Nutrient Film Technique didasari oleh cara pengaturan yang cukup mudah dan tidak memakan biaya yang banyak. Para pemakai sistem NFT ini lebih banyak karena alat yang digunakannya pun banyak.

Bahkan pasokannya sampai ke daerah- daerah terpencil. Cara kerja dari metode NFT ini didasari dari aliran nutrisi yang dapat disebar secara cukup cepat. Anda dapat menggunakan sebuah pipa PVC untuk tumbuhan. Sehingga biayanya cukup murah dan pengerjaannya mudah.

Metode Nutrient Film Technique (NFT)

Namun metode ini menggunakan generator atau reservoir. Sehingga harus memerlukan daya listrik untuk keberlangsungan aliran air atau nutrisi yang dibutuhkan. Maka yang perlu diperhatikan adalah memeriksa kondisi listrik di tempat Anda.

Selain itu Anda pun perlu mengatur kemiringan dari talang tumbuhan agar air nutrisi dapat mengalir secara baik. Kecepatan aliran air tentu perlu diatur pula agar tidak terlalu cepat. Meskipun begitu, hasil yang didapatkan cukup berimbang dengan usaha yang telah dikerjakan.

Kelebihan metode nutrient film technique:

  • Semua metode hidroponik memang lebih mampu meminimalisir hama. Termasuk dari sistem NFT itu sendiri yang cukup baik untuk pengontrolan hama tanaman.
  • Nutrisi dan air dapat diatur sesuai jenis dan kebutuhan tanaman.
  • Tidak perlu melakukan penyiraman.
  • Kebutuhan pupuk lebih hemat.
  • Tanaman cepat segar dan sehat.
  • Baik untuk bisnis dan skala besar.

 

  1. Metode Hidroponik Deep Flow Technique (DFT)

Metode ini dapat disebut Deep Flow Technique adalah metode pengembangan dari sistem NFT. Sistem ini lebih mengutamakan keselamatan akar karena terdapat genangan air meski sedikit. Terlebih bila terdapat fungsi yang salah dari pompa air.

Metode Hidroponik Deep Flow Technique (DFT)

Meskipun begitu, metode ini tidak banyak digunakan karena menggunakan sumber peralatan yang cukup banyak dan besar. Tetapi Anda dapat mencobanya tergantung selera dan kebutuhan.

Kelebihan metode deep flow technique:

  • Memiliki sistem otomatisasi karena menggunakan listrik.
  • Solusi bagi daerah yang sering mengalami mati listrik.
  • Nutrisi mampu merata dan optimal.
  • Panen tergolong lebih cepat.
  • Mampu memakai jenis tanaman apapun.
  • Kontrol perawatan lebih mudah.

 

  1. Metode Hidroponik Aeroponik

Aeroponik merupakan salah satu metode hidroponik yang cukup unik. Karena tanaman dalam metode ini tidak memakai bahan- bahan pengganti tanah. Bahkan akar atau tanaman ini dibiarkan menggantung yang mungkin dapat langsung terlihat secara kasat mata.

Namun sistem perawatan nutrisinya tidak sama seperti NFT atau irigasi tetes yang membutuhkan aliran air. Sistem ini dibutuhkan pengontrolan secara teratur untuk menyemprotkan nutrisi. Hal tersebut disebut dengan pengabutan nutrisi.

Metode Hidroponik Aeroponik

Tetapi hampir mirip dengan metode irigasi yang menggunakan sistem otomatisasi. Sehingga pengontrolan di sini bukanlah secara manual. Pengontrolan di sini dapat dilakukan dengan metode otomatis melalui pengaturan waktu.

Kelebihan metode hidroponik aeroponik:

  • Tempat mampu lebih kecil.
  • Tidak musiman.
  • Hasil berkualitas.
  • Panen cukup cepat.
  • Meminimalisir adanya hama.
  • Mudah untuk dipindahkan.
  • Asupan nutrisi dan oksigen dapat terus menerus.
  • Nutrisi lebih merata.
  • Tanpa penyiraman.

Proses Pengelolaan dalam Sistem Hidroponik

Dalam hal ini metode hidroponik yang tepat sangat dibutuhkan agar proses pengelolaan dapat berjalan lancar. Mulai dari proses penyemaian hingga panen, semuanya memerlukan cara dan  kebutuhan yang mumpuni seperti peralatan yang tepat untuk kesinambungan metode ini.

Untuk proses pembibitan diperlukan jenis benih yang berkualitas baik. Sebab langkah awal ini memiliki andil yang besar untuk perkembangan tanaman sayur maupun buah secara hidroponik di masa mendatang.

Jenis-jenis benih yang kerapkali dipakai antara lain; benih lokal dan benih hibrida. Dalam hal ini Anda dapat menggunakan jenis benih yang hibrida, karena benih ini dinilai lebih baik daripada benih lokal.

Selanjutnya media tanam dan penyemaian bibitnya pun perlu diperhatikan lebih lanjut. Hal ini dinilai sangat penting untuk dapat mendukung pertumbuhan semua jenis tanaman agar hasil panennya memuaskan.

Untuk pembahasan lebih lanjut simak dalam ulasan berikut:

  1. Media Tanam untuk Metode Hidroponik

Dalam pemilihan media tanam untuk metode hidroponik, dibutuhkan media yang tepat. Karena hal ini sangat mempengaruhi pada proses pertumbuhan dan juga perkembangan masing-masing tanaman.

Simak beberapa media tanam hidroponik yang dapat digunakan berikut ini:

  • Arang Sekam

Media yang satu ini adalah sekam bakar dengan warna hitam akibat dari proses pembakaran yang umumnya tidak sempurna. Karakteristik arang sekam ini terbilang cukup ringan dan sedikit kasar.

Arang Sekam

Sedangkan warna hitamnya disinyalir dapat menyerap cahaya matahari dengan baik. Di samping itu media tanam ini memiliki pH yang tinggi antara 8.5-9.0 dan dapat menghilangkan penyakit seperti halnya bakteri dan gulma.

  • Rockwool

Rockwool atau mineral wool merupakan bahan non-organik yang dapat dijadikan sebagai salah satu media tanam yang tepat. Rockwool nantinya dibentuk menyerupai fiber dan dilengkapi rongga berdiameter sekitar 6-10 mikrometer.

Rockwool untuk hidroponik

Rockwool ini dapat menyerap air dan juga udara secara teratur dalam jumlah yang cukup banyak untuk dapat membantu proses pertumbuhan pada akar tanaman. Selain itu rockwool dinilai ramah lingkungan, bebas dari pathogen, mampu mengontrol kadar air dan baik dalam penggunaan debit air.

  • Serbuk Kayu

Media tanaman yang membutuhkan tingkat kelembapan tinggi layaknya jamur, dapat menggunakan media serbuk kayu ini untuk dapat mencapai hasil hidroponik yang maksimal.

  • Cocopeat

Cocopeat adalah media tanam yang memiliki bentuk berupa serbuk halus, yang terbuat dari proses penghancuran sabut kelapa. Dalam proses tersebut menghasilkan media berupa serat atau yang lebih dikenal dengan fiber. Serbuk ini dapat digunakan secara tepat sebagai media tanam karena mampu menyerap air dengan baik.

  • Hidroton

Satu lagi yang merupakan media tanam berbahan dasar tanah liat dan umumnya telah dipanaskan dengan menggunakan suhu tinggi. Hidroton memiliki bentuk-bentuk yang bulat dan ukurannya kecil seperti kelereng.

Hidroton dapat digunakan untuk media tanam, karena mampu menyimpan kandungan air dengan baik, bersih dan tidak merusak akar pH-nya itu sendiri. Hidroton kiranya sangat Netral dan stabil, sehingga Hidroton dapat digunakan berkali-kali sebagai media tanam.

  1. Cara Penyemaian yang Tepat dalam Metode Hidroponik

Proses penyemaian dalam sistem hidroponik ini dapat menjadi proses awal untuk setiap tanaman yang akan dibuat secara hidroponik. Bahkan, penyemaian sangat mudah dilakukan misalnya dengan menggunakan rockwool.

Rockwool dibentuk agar tetap kotak, kemudian lubangi bagian-bagian rockwool secara merata menggunakan tusuk gigi kira-kira ½ cm. Tiap lubang diisi dengan benih yang siap disemai, maka tiap lubang berisikan 1 benih saja.

Cara Penyemaian yang Tepat dalam Metode Hidroponik

Benih seperti selada, sawi, tomat, cabai dan lainnya dapat dicoba terlebih dahulu. Sedangkan bagi tanaman kangkung, seledri dan lainnya tiap 1 lubang dapat diisi dengan 4 hingga 5 biji benih.

Rockwool yang telah terisi benih, langsung dapat dipindahkan ke nampan plastik. Basahi rockwool dengan air secukupnya dan jangan sampai tergenang. Hindari meletakkan nampan di tempat yang terkena sinar matahari secara langsung.

Basahi rockwool setiap harinya secara teratur setiap pagi dan sore. Setelah 3 hari benih sudah mulai tumbuh, dan dapat dipindahkan ke tempat yang dapat terkena sinar matahari secara langsung.

Penyemaian yang baik dan tepat dapat menghasilkan tanaman berdaun 4 jika telah berumur selama 1 minggu. Itu artinya tanaman sudah siap dan dapat dipindahkan ke tempat hidroponik. Jadi seperti inilah proses penyemaian yang baik dan tepat.

  1. Peralatan Untuk Metode Hidroponik

Peralatan hidroponik merupakan unsur yang dibutuhkan untuk metode ini. Maka kualitas dari alat tersebut terkadang menentukan faktor keberhasilannya. Simak beberapa alat untuk metode hidroponik di bawah ini:

Peralatan Untuk Metode Hidroponik

  • Modul Hidroponik

Modul adalah salah satu wadah untuk mengembangkan tanaman. Maka Anda wajib memilih modul yang baik sesuai kebutuhan tanaman.

  • pH Meter

Alat pH meter adalah alat yang membantu Anda untuk mengetahui kadar nutrisi. Terlebih dengan jenis nutrisi AB mix. Tujuannya agar pengaturan kadar nutrisi lebih konsisten.

  • TDS/EC Meter

Selain pH meter adapula TDS yang berfungsi untuk mengetahui kepekatan larutan nutrisi.

  • Gelas Takar

Gelas takar tentu dibutuhkan untuk mengetahui takaran larutan.

  • pH Up dan pH Down

Alat ini bertujuan untuk mengatur jumlah kadar terhadap pH. Sehingga Anda dapat menaikkan atau mengurangi sesuai ketentuan yang dibutuhkan.  Alat ini sangat berguna bagi pengguna yang membutuhkan pasokan nutrisi yang besar.

  • Netpot

Netpot adalah salah satu wadah pembantu sebuah tanaman.

  • Hole Saw

Atau alat bor yang berguna untuk membolongi modul hidroponik.

  • Cairan Kalibrasi pH dan TDS Meter

Cairan kalibrasi ini berfungsi untuk mendukung akurasi dari pH dan TDS meter.

  1. Contoh dan Gambaran Membuat Tanaman Hidroponik

Ada dua cara yang biasanya digunakan kebanyakan pengguna tanaman hidroponik. Dua cara tersebut adalah cara NFT yang telah dijabarkan di atas dan Wick System. Berikut adalah contoh dan langkah dengan kedua metode tersebut:

Nutrient Film Technique:

  • Siapkan bibit tanaman dan modul wadah.
  • Cara ini dapat memakai pipa PVC.
  • Siapkan pompa air untuk pengaliran nutrisi.
  • Lubangi pipa untuk tanaman secara presisi.
  • Siapkan penampungan di ujung pipa.
  • Atur sedemikian rupa sirkulasi air, mulai dari pengeluaran dan pemasukannya.

Wick System:

  • Siapkan botol mineral bekas.
  • Modul tanaman.
  • Alat potong.
  • Kain flanel atau sumbu.
  • Siapkan alat pelubang.
  • Air nutrisi.
  • Potong lubang botol menjadi dua bagian sama rata.
  • Lubangi tutup botol untuk air.
  • Gabungkan kedua botol dengan moncong botol membalik ke bawah.
  • Kain atau sumbu berfungsi untuk menyerap nutrisi dan sebagai media tanam.
  • Bagian botol bawah diisi oleh air nutrisi.
  • Lalu siapkan modul penopang benih yang sesuai.
  • Bibit siap disimpan.

Kesimpulan, Tips dan Proses Pemanenan Hidroponik

Hal yang paling ditunggu dan berkaitan dengan keberhasilan proses hidroponik adalah melihat waktu panen. Tanaman yang berhasil tentu dilihat dari kesegaran tanaman atau sayuran itu sendiri. Oleh karena itu proses panen adalah sesuatu yang cukup menentukan.

Terkadang ada pula kegagalan yang dihasilkan. Namun semua kegagalan tersebut tentunya menjadi bahan pembelajaran untuk di kemudian hari. Sejatinya bila Anda mengikuti langkah- langkah dan prosedur yang tepat maka kegagalan panen dapat diminimalisir.

Tips dan Proses Pemanenan Hidroponik

Tentunya langkah- langkah tersebut adalah salah satu hal yang penting dalam pembudidayaan tanaman hidroponik. Apalagi bila Anda berniat untuk terus mengembangkan bahkan membisniskannya.

Yang perlu diperhatikan adalah informasi secara lengkap atas apa yang nanti akan Anda lakukan. Contohnya bila Anda hendak membuat tanaman tomat, maka Anda harus paham tentang tomat. Anda pun harus mengetahui karakteristik sayuran atau buah tomat tersebut secara mendalam.

Sehingga wajib mengetahui kadar nutrisi yang dibutuhkan untuk setiap percobaan yang akan Anda lakukan nantinya. Setelah Anda melakukan riset cukup baik, maka praktik pun dapat Anda mulai. Dengan begitu baik dan buruk hasilnya dapat Anda ketahui sendiri.

Selain itu pengalaman yang Anda lakukan tentu akan berbeda dengan pengalaman orang lain. Faktor- faktor perbedaan akan ditentukan dari berbagai aspek. Mulai dari faktor cuaca, suhu dan peralatan yang digunakan.

Maka yang terbaik untuk membentuk tanaman hidroponik yang bagus adalah mempersiapkan alat- alat yang sesuai kualitasnya. Berkaitan waktu pemanenan maka setiap jenis tumbuhan akan berbeda- beda.

Setelah Anda mengetahui jenis tumbuhannya maka Anda akan mengetahui proses pemanenan dengan waktu yang paling cocok. Bila dipukul rata maka pemanenan tanaman di Indonesia ini lebih cocok dilakukan di pagi hari. Semua itu tergantung daerahnya masing- masing.

Proses Pemanenan Hidroponik

Terkadang ada yang melakukan pemanenan pada waktu jam 8 sampai 9 dengan keadaan suhu yang masih dingin. Contohnya seperti di daerah dataran tinggi. Bagi daerah yang cukup normal maka pukul 6 sampai pukul 8 pagi adalah waktu yang cukup baik.

Terlebih melihat proses embun dan penguapan yang sudah baik di waktu pagi. Sehingga waktu pagi menjelang siang adalah waktu yang cukup cocok untuk pemanenan. Selain waktu pagi adapula tanaman yang spesialis memakai waktu di akhir hari, contohnya beberapa tanaman jenis buah.

Biasanya terdapat pula tanaman jenis buah yang cocok untuk dipanen di waktu sore menjelang maghrib. Sekitar pukul 4 sore sampai 5 sore adalah waktu yang biasa dilakukan untuk proses pemanenan sore.

Pemanenan dengan waktu yang tepat bertujuan untuk menjaga kesegaran dari buah dan kualitas tanaman yang dipanen. Sehingga pemanenan pun tergantung dari usia tanaman atau buah tersebut. Terkadang Anda pun harus menghindari proses pemanenan dengan waktu yang lama.

Proses penundaan pemanenan yang tidak tepat akan membuat kualitas buah dan sayur menurun. Terkadang bila terlambat panen akan menimbulkan rasa yang pahit. Jadi yang terbaik adalah untuk terus bereksperimen dengan jenis tanaman atau buah yang akan Anda kembangkan.

Sistem hidroponik ini akan menjadi sistem bercocok tanam yang sangat baik. Terlebih bila Anda berada di lingkungan yang jarang akan sumber tanah. Memiliki sumber tanah yang banyak tidak menjadikan pula tanah itu berkualitas. Oleh sebab itu, metode hidroponik dapat menjadi sebuah solusi bercocok tanam.

1 tanggapan pada “7 Jenis Sistem Hidroponik Paling Populer di Indonesia”

  1. Pingback: Sangat Mudah! Yuk Intip Cara Menanam Kangkung Hidroponik Disini | Yuk Usaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *