Teknik Budidaya Tanaman dengan Media Tanam Hidroponik

Saat ini, media tanam hidroponik menjadi salah satu trend bagi masyarakat untuk menanam aneka sayuran sebagai nutrisi. Kebutuhan nutrisi masyarakat tentu wajib bagi setiap kalangan. Salah satu sumber nutrisi yang cukup banyak dibutuhkan adalah berasal dari sayuran, sehingga kebutuhan masyarakat akan sayuran semakin meningkat. Meningkatnya kebutuhan sayuran bagi masyarakat berbanding lurus dengan nilai ekonomis yang kian hari semakin tinggi.

Namun demikian ternyata peningkatan ini tidak seimbang dengan luasnya lahan yang tersedia untuk menanam sayuran. Tentu saja hal ini dapat menjadi kendala yang besar. Untuk mengatasi hal tersebut maka diciptakanlah cara yang bisa meningkatkan produktivitas tanaman sayuran supaya lahan yang sempit pun bisa dimanfaatkan untuk memproduksi sayuran dengan nilai yang tinggi.

Teknik Budidaya Tanaman dengan Media Tanam Hidroponik

Apalagi wilayah perkotaan yang notabene tidak memiliki lahan kosong yang luas, maka dibutuhkan terobosan baru untuk bisa memanfaatkan lahan sempit guna menanam sayuran. Salah satu sistem penanaman yang menjadi solusi untuk masalah ini adalah menggunakan sistem hidroponik.

Apa Pengertian Media Tanam Hidroponik?

Sistem hidroponik adalah salah satu sistem budidaya yang menggunakan air sebagai media tanamnya. Dalam hal ini, air yang digunakan adalah air yang memiliki kandungan mineral dan nutrisi tanpa tanah. Perkebunan hidroponik saat ini sudah banyak dijumpai di berbagai tempat, sehingga dapat dikatakan bahwa sistem hidroponik sudah dikenal luas oleh kalangan masyarakat secara umum. Teknologi ini mampu memberikan banyak sekali keuntungan dari berbagai segi, mulai dari investasi, keuangan, kualitas tanaman, dan lain sebagainya.

Media Tanam Hidroponik

Perlu diketahui bahwa media tanam memiliki peran yang sangat penting karena merupakan salah satu unsur yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Dalam hal ini, media tanam berfungsi sebagai penopang akar tanaman dan menyimpan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut. Saat melakukan budidaya tanaman, khususnya sayuran, media tanam menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya yang dilakukan. Lebih dari itu, ternyata media tanam juga mempengaruhi kualitas dan kuantitas dari tanaman.

Ada cukup banyak jenis media tanam yang umumnya digunakan sebagai media tumbuhnya tanaman hidroponik. Pada dasarnya, syarat dari media tanam dengan sistem hidroponik yakni bisa dijadikan tempat berpijak bagi tanaman, memiliki drainase serta aerasi yang baik, dapat mengikat unsur hara dan air, tidak mudah lapuk, serta bisa mempertahankan kelembaban di area akar tanaman.

Mengapa Ada Sistem Hidroponik?

Pada dasarnya, metode hidroponik ini dapat mengatur faktor pembatas dalam hal budidaya tanaman di lahan. Misalnya adalah kelembaban, suhu, pH, dan nutrisi. Setiap tanaman bisa hidup di media tanam seperti halnya tanah karena di tanah terdapat nutrisi yang cukup untuk tanaman tersebut. Dalam hal ini nutrisi juga bisa didapatkan di media tanam yang lain seperti halnya air, sehingga tanaman juga bisa hidup dan tumbuh dengan baik di air.

Sistem Hidroponik

Faktor nutrisi memang merupakan faktor yang sangat penting, bahkan menjadi penentu dari hasil produksi tanaman budidaya. Beberapa larutan nutrisi yang paling mempengaruhi adalah Nitrogen, Kalium, Fosfor, Magnesium, Kalsium, dan Sulfur, kemudian dilengkapi dengan adanya mikronutrien. Tanaman budidaya akan menyerap ion dari larutan nutrisi tersebut secara berkelanjutan dalam tingkatan konsentrasi rendah. Hal ini menyebabkan tanaman budidaya tumbuh subur, dan hal ini juga harus diperhatikan dalam hal sistem hidroponik.

Keuntungan dari Sistem Pertanian Hidroponik

Pertanian hidroponik saat ini banyak sekali diminati oleh masyarakat luas. Hal ini terjadi karena pertanian hidroponik memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan sistem budidaya pertanian secara konvensional.

Keuntungan dari Sistem Pertanian Hidroponik

  1. Hasilnya Lebih Berkualitas

Perlu diketahui bahwa beberapa jenis sayuran hidroponik ternyata di klaim lebih berkualitas dibandingkan dengan sayuran yang dibudidayakan secara konvensional. Memang benar bahwa ada beberapa jenis sayuran yang kualitasnya akan lebih baik apabila ditanam secara hidroponik, seperti halnya brokoli. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, karena sayuran yang ditanam secara hidroponik tentunya lebih segar, bebas dari bahan kimia dan pestisida. Bahkan sebagian kecil orang sudah mulai membudidayakan tanaman hidroponik sebagai usaha yang menjanjikan, karena semakin berkualitas tanaman yang diproduksi, maka akan semakin tinggi nilai jualnya.

  1. Dapat Ditempatkan Dimanapun

Bagi yang memiliki masalah terkait dengan lahan tetapi ingin berbudidaya tanaman, maka sistem hidroponik merupakan sistem pertanian yang sangat cocok untuk diterapkan. Perlu diketahui bahwa tanaman hidroponik bisa ditanam atau ditempatkan dimana saja di area rumah. Bahkan tanaman hidroponik bisa digantungkan di tembok sehingga tidak memakan banyak tempat.

Tidak heran apabila sistem bertanam dengan cara hidroponik saat ini menjadi tren urban farming yang biasanya dilakukan di area perkotaan. Apalagi wilayah perkotaan tidak memiliki banyak lahan kosong yang luas sehingga teknik hidroponik menjadi teknik berkebun modern yang diminati banyak orang.

  1. Tanpa Pestisida dan Bahan Kimia

Seperti yang telah diketahui bahwa sistem hidroponik merupakan sistem penanaman yang tidak menggunakan tanah, melainkan menggunakan media tanam cairan. Tempat penanaman dan caranya pun sangat dijaga sehingga tidak lagi membutuhkan pestisida atau bahan kimia lainnya untuk menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit. Dapat dikatakan bahwa sayuran hidroponik merupakan sayuran organik yang segar dan sehat sehingga aman untuk dikonsumsi. Bagi yang suka mengonsumsi sayuran organik, maka sangat direkomendasikan untuk menanam sayuran di rumah  dengan cara hidroponik.

  1. Tidak Membutuhkan Banyak Air

Media tanam dari sistem hidroponik adalah air. Namun demikian, bukan berarti tanaman hidroponik membutuhkan terlalu banyak air. Justru tanaman hidroponik hanya memerlukan air dalam jumlah yang sedikit. Berbeda halnya dengan media tanah yang membutuhkan air dalam jumlah yang banyak dan harus diberikan secara rutin.

Jika menanam dengan cara konvensional, tentu perlu menyirami tanaman sehingga bisa tumbuh subur. Hal ini berbeda dengan cara hidroponik, yang tidak harus selalu menyirami secara rutin, karena media tanamnya pun sudah menggunakan air.

  1. Nutrisi dan Lingkungan Mudah Dikontrol

Salah satu kelebihan dari sistem pertanian hidroponik adalah kemudahan dalam mengontrol nutrisi dan lingkungan tempat penanaman.  Hal ini terjadi karena konsentrasi nutrisi untuk tanaman bisa larut dalam air dengan mudah. Dalam hal ini, nutrisi pun bisa dengan mudah dan secara langsung diserap tanaman secara efektif dan efisien. Jadi tidak perlu khawatir lagi mengenai masalah nutrisi dan lingkungan.

  1. Cepat Menikmati Hasil Panen

Ternyata, dengan menanam tanaman hidroponik bisa lebih cepat menikmati hasil panen. Perlu diketahui bahwa nutrisi bisa diserap secara langsung oleh tanaman tanpa ada yang terbuang sia-sia. Hal ini tentu saja mempengaruhi sayuran dapat tumbuh lebih cepat dan menghasilkan tanaman yang berkualitas. Selain itu, di daerah akar juga menyimpan cukup banyak oksigen yang sangat bermanfaat untuk tanaman.

Dengan pemakaian metode hidroponik ini dapat membantu mengurangi resiko, dan masalah budidaya berkaitan tanah, contohnya adalah gangguan dari jamur, serangga, hingga bakteri dalam tanah. Sistem ini juga lebih mudah dalam pemeliharaan seperti tidak melibatkan proses penyiangan dan pengolahan tanah dalam budidaya tanamannya. Berikutnya yaitu proses budidaya yang dilakukan di dalam kondisi yang lebih bersih dan tidak memakai pupuk kotoran hewan.

Macam-Macam Media Tumbuh Sayuran Hidroponik

Dalam menanam sayuran hidroponik, ternyata media tumbuh juga memiliki peran yang sangat penting sehingga tanaman yang dihasilkan bisa berkualitas. Secara umum, media tumbuh yang digunakan harus memenuhi syarat untuk ketersediaan air dan udara demi kelangsungan pertumbuhan tanaman.

Idealnya, untuk tanaman hidroponik, media tumbuh yang dibutuhkan yaitu bisa menopang pertumbuhan tanaman dan tidak menyebabkan penyumbatan instalasi hidroponik. Media tumbuh juga sebaiknya mempunyai pori untuk aerasi dan tidak memberi pengaruh terhadap larutan nutrisi. Perlu diketahui bahwa media tidaklah berfungsi untuk menyediakan nutrisi sehingga sifatnya harus lembab.

Macam-Macam Media Tumbuh Sayuran Hidroponik

Selain itu, karakteristik media yang baik digunakan untuk pertanian hidroponik yaitu memiliki partikel ukuran 2 – 7 mm. Dengan demikian maka bisa menjaga kelembaban, bisa mengeluarkan kelebihan air, serta tidak mudah terdegradasi dan terurai. Media tanam juga sebisa mungkin bebas dari adanya mikroorganisme yang bisa mengancam kesehatan tanaman atau manusia. Usahakan media tanam tersebut tidak terkontaminasi dengan kotoran seperti halnya limbah industri. Alangkah baiknya media yang digunakan mudah diperoleh dan mudah dipindahkan.

Sebenarnya media tumbuh bagi sistem hidroponik hanyalah berfungsi untuk pegangan akar serta perantara larutan hara. Dengan demikian maka kebutuhan unsur mikro dan makro bisa terpenuhi dengan baik. Perlu diketahui bahwa kebutuhan pupuk bagi tanaman hidroponik dengan tanaman konvensional sebenarnya sama.

Berikut ini merupakan beberapa media hidroponik yang dapat digunakan. Penggunaan media hidroponik bisa disesuaikan dengan bahan yang ada, sehingga akan lebih fleksibel.

  • Media Organik

Media organik merupakan bahan-bahan yang bersifat organik yang digunakan sebagai media tanam hidroponik. Adapun beberapa contoh dari media organik adalah arang sekam, sabut kelapa, serbuk gergaji, akar pakis, gambut, vermikulit, dan lain sebagainya. Beberapa media tersebut merupakan bahan organik yang sangat mudah didapatkan.

Kelebihannya dari pemakaian media organik yakni kemampuan untuk menyimpan air serta nutrisi tinggi, baik bagi perkembangan mikroorganisme bermanfaat (mikroriza, dan lain-lain), dan aerasi yang optimal (porus). Selain itu, dengan menggunakan media organik maka bisa memiliki kemampuan menyangga pH yang tinggi sehingga sangat cocok bagi perkembangan perakaran. Media organik umumnya digunakan pada tipe irigasi drip, karena massanya jauh lebih ringan.

Kekurangan dari menggunakan media organik antara lain dikarenakan kelembaban dari media yang cukup tinggi, rentan serangan bakteri, jamur, virus, yang merupakan penyebab penyakit tanaman. Sterilitas media pun sulit dijamin, sehingga butuh perawatan yang khusus. Media organik juga sifatnya tidak permanen, hanya dapat digunakan beberapa kali saja, sehingga secara rutin harus diganti dengan media organik yang baru.

media tanam hidroponik

  • Media Non-Organik

Selain media organik, ternyata sistem hidroponik juga bisa menggunakan media non-organik. Beberapa contoh media non-organik antara lain adalah rockwool, perlit, sand, clay granular, batu bata, batu apung, batu karang, dan lain sebagainya.

Kelebihan menggunakan media non-organik adalah sifatnya yang permanen, sehingga dapat dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama. Selain itu, aerasi pun lebih optimal, cepat mengatuskan air, sehingga media tidak terlalu lembab. Penggunaan media non-organik dalam hal sterilitasnya jauh lebih terjamin. Media ini sangat jarang digunakan sebagai inang bagi jamur, bakteri, dan virus.

Kekurangan menggunakan media non-organik adalah bukan merupakan media yang baik bagi perkembangan organisme bermanfaat seperti Mikoriza. Media non-organik juga cenderung lebih berat, karena umumnya berupa batuan. Selain itu, media ini terlalu cepat mengatuskan air, sehingga nutrisi yang diberikan sering terlindas. Media ini dapat dikatakan kurang baik bagi perkembangan sistem perakaran.

Jenis Sayuran Hidroponik yang Sering Ditanam

Bagi yang ingin menanam tanaman hidroponik, khususnya sayuran, berikut ini merupakan beberapa rekomendasi sayuran yang dapat ditanam dengan cara hidroponik.

tanaman hidroponik

  1. Bayam

Pada dasarnya, bayam merupakan salah satu sayuran yang cukup sering ditanam oleh banyak orang. Sayuran ini memiliki banyak sekali kandungan gizi, seperti halnya vitamin, A, B, dan C, dan juga zat besi yang sangat baik untuk tubuh.

Selain itu, bayam ternyata dapat ditanam dengan sistem hidroponik, sehingga tidak harus menggunakan media tanah untuk menanam. Hal ini disebabkan karena bayam pada dasarnya merupakan jenis sayuran dedaunan yang sangat mudah tumbuh dengan air. Waktu yang dibutuhkan untuk panen bayam pun relatif singkat, yakni kisaran 12 minggu.

  1. Daun Bawang

Selain bayam, salah satu sayuran yang bisa ditanam dengan cara hidroponik adalah daun bawang. Jenis sayuran ini cukup sering digunakan sebagai pelengkap masakan. Dibandingkan harus membeli daun bawang yang jika dibiarkan beberapa hari bisa menguning, akan lebih baik jika menanamnya sendiri.

Daun bawang merupakan sayuran yang dapat tumbuh di air, sehingga dapat ditanam dengan metode hidroponik. Supaya tumbuh dengan baik, daun bawang membutuhkan cahaya matahari kisaran 12-14 jam setiap harinya. Panen pertama, membutuhkan waktu sekitar 6-8 minggu, sementara untuk panen selanjutnya hanya butuh sekitar 4 minggu saja.

  1. Kangkung

Kangkung termasuk jenis sayur di mana banyak disukai oleh masyarakat. Jika ingin menanam kangkung, maka sangat mudah, karena sayuran ini dapat tumbuh alami dimanapun. Bahkan kangkung bisa tumbuh sepanjang tahun dan tidak ada musimnya, juga tidak butuh adanya perawatan khusus. Oleh karena itu, kangkung sangat cocok untuk dibudidayakan dengan metode hidroponik.

Caranya sangat mudah, yaitu hanya perlu merendam benih kangkung sekitar 3-4 jam pada air hangat. Setelah itu, pindahkan benih tersebut pada tisue atau kapas basah. Setelah muncul kecambah, maka bisa dipindahkan pada media tanam hidroponik.

  1. Selada

Banyak orang yang suka makan selada, karena merupakan sayuran segar yang bisa dimakan mentah. Umumnya, selada banyak dijumpai di salad dan sandwich. Bagi yang suka selada, maka bisa menanamnya di rumah dengan cara hidroponik.

Perlu diketahui bahwa  proses bertumbuhnya tanaman ini terbilang cepat apabila ditanam dengan cara hidroponik. Dengan menanam selada di rumah, maka bisa mengonsumsi sayuran segar setiap harinya.

  1. Seledri

Supaya masakan tercium harum, maka seledri merupakan salah satu sayuran yang bisa membuat masakan menjadi harum dan lezat. Tidak hanya menambah aroma pada masakan saja, ternyata seledri juga bisa digunakan untuk mengobati dan mencegah penyakit, misalnya darah tinggi, kolesterol, sendi, dan lain-lain.

Seledri merupakan sayuran hidroponik yang cukup mudah dijumpai. Jika ingin menanam seledri, maka bisa dilakukan di rumah dengan sangat mudah. Untuk memanen seledri, dibutuhkan waktu 1-2 bulan. Sementara, untuk proses panennya bisa dilakukan dalam kurun waktu 5 hari sekali.

  1. Cabai

Selanjutnya adalah jenis tanaman cabai. Di bagian bumbu dapur, pasti terdapat cabai, karena cabai merupakan sayuran wajib yang pasti dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Apalagi masyarakat Indonesia cenderung menyukai  makanan yang pedas, sehingga penggunaan cabai pada masakan pun sangat dibutuhkan.

Jika ingin menanam cabai di rumah, maka tidak harus memiliki lahan yang luas, karena dapat ditanam secara hidroponik. Tanaman cabai juga tidak sulit dalam hal perawatannya, sehingga sangat cocok ditanam oleh pemula.

  1. Timun

Timur merupakan jenis sayuran yang memiliki kandungan air cukup tinggi. Tidak heran apabila sayuran ini dapat ditanam secara hidroponik. Biasanya, timun ditanam di media tanah yang diberi kayu untuk menjulur dan melilit. Namun dengan menggunakan media air, timun ternyata bisa tumbuh dengan baik

Sayuran ini memiliki banyak sekali manfaat, antara lain adalah untuk minuman segar dan sehat, pelengkap masakan, bahkan untuk perawatan kulit. Jadi, jika ingin memanfaatkan timun secara rutin, akan lebih baik jika menanam sendiri di rumah.

Perlu diketahui bahwa segala jenis timun bisa ditanam menggunakan cara hidroponik dengan sangat mudah. Waktu yang dibutuhkan untuk memanen timun yakni kisaran 2-3 bulan. Meskipun demikian, sebenarnya pertumbuhan timun ini sangat dipengaruhi oleh varietas timun tersebut.

  1. Tomat

Salah satu sayuran familiar adalah tomat. Tomat memiliki kandungan air yang cukup banyak sehingga tomat tidak hanya dapat ditanam pada media tanam konvensional, tetapi juga bisa dibudidayakan dengan cara hidroponik. Jika tidak memiliki lahan yang cukup untuk menanam tomat, maka cara hidroponik merupakan pilihan yang sangat tepat.

Apabila ingin memiliki tanaman tomat yang tumbuh dengan subur dan hasilnya bagus maka perlu untuk memilih bibit yang berkualitas. Selain itu, t juga butuh perawatan intensif sehingga dapat menghasilkan an hasil panen yang baik.

  1. Buncis

Sayuran hidroponik lainnya yang cukup familiar di Indonesia adalah buncis. Sayuran ini memiliki banyak sekali kandungan gizi dan nutrisi, seperti halnya vitamin A, B, dan C. Selain itu, buncis juga mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi. Jika ditanam secara hidroponik maka buncis bisa tumbuh lebih cepat dan lebih subur, sehingga bisa dipanen dalam waktu yang singkat.

  1. Sawi Hijau

Salah satu sayuran yang banyak dijumpai adalah sawi hijau. Sawi hijau banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Ternyata, sayuran ini dapat ditanam secara hidroponik sehingga tidak membutuhkan media tanam tanah. Sawi hijau bisa tumbuh di berbagai tempat, karena sangat mudah beradaptasi dengan media tanam apapun. Selain itu, sayuran ini juga bisa tumbuh sepanjang tahun sehingga mudah dijumpai.

  1. Brokoli

Jenis sayuran lainnya yang dapat ditanam secara hidroponik adalah brokoli. Perlu diketahui bahwa tanaman hidroponik ini menjadi salah satu sayuran sehat andalan bagi banyak orang. Bagi yang suka brokoli, maka bisa mencoba menanamnya di rumah dengan cara hidroponik.

Meskipun lebih butuh perhatian yang lebih dibandingkan dengan sayuran lainnya, tetapi brokoli sangat direkomendasikan untuk ditanam dengan cara ini. Brokoli membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dipanen, yakni kisaran 2-3 bulan. Tidak perlu khawatir, karena proses tidak akan mengkhianati hasil, brokoli yang ditanam secara hidroponik harganya lebih tinggi.

  1. Kailan

Salah satu sayuran yang bisa ditanam secara hidroponik adalah kailan. Perlu diketahui bahwa sayuran ini memiliki kandungan nutrisi yang tinggi, seperti halnya kalsium, kalium, dan serat. Tidak heran jika sayuran ini sangat baik untuk kesehatan tulang dan pencernaan. Bahkan, sayuran ini juga sering dimanfaatkan untuk kecantikan, yakni mencegah terjadinya penuaan dini.

Jika ingin memasak kailan, maka ada trik khusus yang harus dilakukan. Usahakan untuk tidak memasak terlalu matang. Hal ini bisa mempengaruhi kandungan nutrisi di dalam sayuran tersebut.

  1. Pakcoy

Bagi para vegetarian pasti tidak asing lagi dengan sayuran yang satu ini. Bahkan pakcoy sering kali menjadi menu sajian sayuran yang lezat. Pakcoy memiliki kandungan kalium, asam folat, vitamin A, vitamin C, dan vitamin D yang tinggi. Hal tersebut tentunya memberikan pengaruh baik bagi kesehatan tubuh. Selain itu, pakcoy pun mempunyai kandungan glucosinolates yang bisa menghindarkan dari kanker prostat dan kanker payudara.

Bagi yang ingin menanam pakcoy, maka bisa menanamnya dengan cara hidroponik. Tidak butuh lahan luas untuk menanamnya. Bahkan jika ingin memetik pakcoy yang segar, bisa langsung di area rumah.

  1. Pare

Mungkin tidak banyak orang yang suka pare karena rasanya yang pahit. Namun ternyata pare memiliki cukup banyak khasiat. Nyatanya, sayur yang pahit ini kaya akan kalsium, kalium, serat, vitamin A dan C, dan zat besi. Selain itu, pare juga bisa menurunkan kolesterol, kadar gula, dan tensi darah. Bahkan pare juga bisa memperkuat sistem kekebalan tubuh serta mencegah adanya sel kanker yang berbahaya. Hal ini disebabkan karena adanya komponen saponin di pare.

Hasil Produksi Sayuran Hidroponik

Ternyata, hasil produksi dari sayuran yang ditanam dengan media tanam hidroponik memiliki banyak sekali keunggulan. Berikut ini merupakan beberapa keunggulan hasil produksi sayuran hidroponik yang didapatkan.

Dengan menanam sayuran secara hidroponik, ternyata bisa lebih menghemat penggunaan lahan. Seperti halnya keuntungan dari sistem hidroponik secara umum, di mana lahan yang sempit pun bisa digunakan sebagai tempat yang tepat untuk budidaya beragam tanaman. Oleh karenanya, penggunaan lahan pun akan jauh lebih efisien.

Hasil Produksi Sayuran Hidroponik

Hasil produksi sayuran jauh lebih berkualitas dibandingkan dengan budidaya sayuran secara konvensional atau tradisional. Tidak perlu khawatir masalah kualitas, karena kualitas sayuran hidroponik lebih unggul atau sama dengan hasil produksi sayuran pada umumnya. Pasalnya, hal ini dikarenakan dalam sistem hidroponik, sayuran tidak tercemar oleh limbah, kotoran, dan pestisida, sehingga aman dikonsumsi.

Menanam secara hidroponik di rumah juga akan bisa selalu mendapatkan sayuran segera yang bisa diambil sewaktu-waktu. Jika sedang membutuhkan daun bawang atau seledri untuk memasak, maka bisa langsung petik dalam keadaan segar.

Namun demikian, hasil produksi sayuran dengan media tanam hidroponik juga memiliki kendala. Dalam hal pengusahaan skala besar, ternyata persaingannya sangat ketat. Apalagi dengan sayuran yang ditanam secara konvensional yang harga jualnya lebih murah dibandingkan dengan sayuran hidroponik. Oleh karenanya, persaingan produk sejenis antara pertanian hidroponik dengan pertanian tradisional pun cukup ketat, karena masyarakat cenderung lebih minat untuk membeli sayuran dengan harga yang murah.

Cara Penanaman Hidroponik yang Umum Digunakan

Banyak orang yang ingin mencoba cara bertanam secara hidroponik. Sebenarnya cara ini bisa dikatakan gampang-gampang susah. Asalkan mengikuti prosedurnya, maka penanaman hidroponik sukses dilakukan. Bagi para pemula, maka bisa memilih satu dari beberapa cara penanaman tanaman hidroponik berikut ini.

  • Wick System

Perlu diketahui bahwa sistem ini merupakan sistem penanaman tanaman hidroponik yang terbilang sederhana. Hal ini dikarenakan model penanamannya menggunakan sumbu di mana sumbu tersebut menghubungkan Pot dengan media larutan nutrisi.

hidroponik Wick System

Selain itu, cara ini banyak disukai oleh orang-orang karena pembuatannya lebih mudah serta bahan-bahannya pun mudah untuk didapatkan. Bahkan, cara menanam dengan sistem ini dapat menggunakan barang-barang bekas yang sudah tidak digunakan. Beberapa bahan yang perlu dipersiapkan antara lain adalah botol air mineral bekas kain flanel atau sumbu kompor, alat pemotong, solder atau paku untuk melubangi, dan air nutrisi. Jika semua bahan sudah siap, selanjutnya tinggal membuatnya.

Potong terlebih dahulu botol bekas sehingga terbagi menjadi dua bagian. Setelah itu, bagian tutup botol dilubangi, dan kedua bagian botol digabungkan. Caranya yaitu itu dengan membalik botol bagian moncongnya menghadap bawah. Kemudian pasanglah kain flanel atau sumbu kompor di lubang tutup botol pastikan kain flanel atau sumbu tersebut dapat menyerap air nutrisi. Tanamlah bibit yang sudah disiapkan di bagian atas botol menggunakan tanah secukupnya. Langkah terakhir yaitu mengisi botol bagian bawah menggunakan air nutrisi.

  • Drip System/Sistem Irigasi

Sistem irigasi cukup banyak digunakan oleh para petani hidroponik di berbagai tempat, bahkan diseluruh dunia. Sistem ini memanfaatkan saluran air yang digunakan sebagai media untuk menyalurkan nutrisi menuju akar tanaman. Namun demikian, irigasi tersebut dibuat berbeda sehingga bisa menyesuaikan kebutuhan tanaman, yakni supaya air bisa terus-menerus menetes menuju akar.

hidroponik Drip System/Sistem Irigasi

Cara penanaman hidroponik dengan irigasi cukup mudah untuk dipraktekkan, karena peralatan yang dibutuhkan pun tidak begitu rumit tetapi harus benar-benar memahami satu per satu. Adapun peralatan yang dibutuhkan antara lain adalah selang air, pompa air, pipa air, media tanam, timer, media penampungan air, dan daya listrik.

Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu membuat media tanam untuk tanaman hidroponik menggunakan sistem irigasi. Medianya bisa berupa ijuk, sekam, arang, atau kerikil. Jika tanaman telah dimasukkan pada media tanam, selanjutnya tanaman digantung supaya bagian bawah dari media tanam tidak bersentuhan langsung dengan kolam irigasi.

Untuk kolam irigasi sendiri dibuat sedemikian rupa sehingga bisa menampung semua tanaman dan menyalurkan tetesan air ke bagian luar. Selanjutnya yaitu membuat kolam pompa di bagian yang terpisah. Tempatkan pompa air kecil/mini, fungsinya adalah menyalurkan air pada tanaman. Kolam tersebut diisi air yang telah dicampur nutrisi bisa dicampur dengan pupuk organik cair.

Selanjutnya, hubungkan pipa dan selang dengan pompa air mini dengan posisi pipa dipasang pada bagian atas tanaman. Di setiap tanaman diberi saluran kecil supaya air dapat menetes. Perlu diketahui bahwa ini merupakan sumber utama nutrisi bagi tanaman hidroponik. Pompa air mini disambungkan pada daya listrik, kemudian diberi alat timer di colokan listrik sehingga bisa mengatur tingkat penyiraman tanaman.  Dengan demikian maka tanaman akan mendapatkan air yang cukup, tidak terlalu banyak dan tidak pula kekurangan.

  • Ebb and Flow System/Sistem Pasang Surut

Cara penanaman selanjutnya yaitu hidroponik pasang surut. Jika mengetahui sistem kerja hutan bakau di bagian area pasang surut air laut, maka sistem ini penerapannya juga serupa. Cara kerjanya yaitu dengan membanjiri bagian media tanam pada periode tertentu. Air yang mengalir pada media tanam mengandung nutrisi mikro dan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman tersebut.

hidroponik Ebb and Flow System/Sistem Pasang Surut

Jika ingin menggunakan cara penanaman hidroponik ini, maka bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain adalah pipa penyalur nutrisi, pompa air, polybag, nipper, tube mikro, timer, dan wadah penampung air. Selanjutnya, susunlah instalasi hidroponik menjadi dua bagian. Bagian yang pertama, membuat wadah untuk menampung air yang nantinya akan dipompa. Instalasi kabel pompa dipasang dengan baik, kemudian tempatkanlah pada pipa untuk menampung nutrisi yang telah disiapkan. Di bagian saklar listrik dapat menggunakan timer untuk pompa air.

Setelah itu, siapkanlah instalasi untuk menanam tanaman. Caranya yaitu dengan menempatkan tanaman di polybag yang sudah ah di beri media tanam, baik menggunakan kerikil, arang, sekam, dan lain sebagainya. Kemudian polybag ditempatkan pada tempat yang menggantung dan bagian bawah polybag tidak boleh menempel ke bagian dasar wadah penampung itu. Selanjutnya pipa saluran nutrisi dari pompa air ditempatkan pada wadah bawa hidroponik. Pipa ini berfungsi sebagai jalan saluran air atau drainase yang nantinya membanjiri media tanam.

Pada dasarnya, instalasi media tanam hidroponik yang satu ini cara kerjanya cukup sederhana. Wadah yang digunakan untuk menampung diisi dengan cairan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk cair juga bisa digunakan untuk mencampur air di tampungan ini, tetapi pada komposisi tertentu. Cairan nutrisi tersebut nantinya disalurkan menggunakan pompa air menuju wadah hidroponik.

  • Water Culture System/Sistem Rakit Apung

Perlu diketahui bahwa cara penanaman hidroponik ini umumnya digunakan oleh pihak-pihak yang menjalankan bisnis tanaman hidroponik dengan jumlah tanaman yang cukup besar. Cara penanaman ini menggunakan media gabus atau Styrofoam yang berfungsi untuk meletakkan tanaman sehingga mengapung di air.

hidroponik Water Culture System/Sistem Rakit Apung

Untuk bisa menggunakan teknik ini, maka perlu adanya kolam hidroponik di area rumah. Setelah itu, kolam tersebut diisi menggunakan larutan nutrisi, yakni pupuk organik dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Selanjutnya perlu menyiapkan gabus atau Styrofoam sebagai media tanam, kemudian lubangi dan tempatkanlah bibit atau benih tanaman di Styrofoam. Bagian akar tanaman nantinya akan mengapung di atas larutan dan bisa tumbuh dengan baik.

Sebenarnya cara ini mudah untuk dipraktekkan dan terbilang sederhana. Bahkan, teknik ini mempunyai beberapa keunggulan, antara lain biaya yang murah dalam pemasangan instalasi karena hanya membutuhkan kolam penampungan air nutrisi dan Styrofoam. Selain itu, bahan-bahannya pun sangat mudah ditemukan, bahkan bisa menggunakan barang bekas.

Tidak perlu khawatir, karena sayuran hidroponik yang ditanam menggunakan teknik ini tidak membutuhkan banyak perawatan, sehingga akan lebih efektif dan efisien. Teknik ini juga tidak membutuhkan adanya daya listrik sama sekali sehingga bisa menekan budget. Bagi yang menjalankan bisnis tanaman hidroponik dalam skala besar, maka bisa mempertimbangkan untuk menggunakan teknik penanaman ini.

  • Nutrient Film Technique/NFT System

Perlu diketahui bahwa sistem ini sangat cocok diterapkan untuk menanam tanaman yang notabene pertumbuhannya membutuhkan banyak air. Misalnya adalah kangkung dan bayam yang bergantung pada air.

hidroponik Nutrient Film Technique/NFT System

Air dalam sistem penanaman ini sebenarnya merupakan perantara nutrisi bagi tanaman yang didistribusikan melalui saluran tipis. Tanaman hidroponik kemudian ditempatkan di polybag maupun wadah khusus. Selanjutnya, tanaman digantung pada penampang yang miring. Hal ini bertujuan supaya yang terkena air hanya sebagian akar dari tanaman saja. Selain itu, cara penanaman ini juga membutuhkan aliran nutrisi yang dialirkan menggunakan sirkulasi yang baik, dari wadah penampung, penampang hidroponik, hingga pipa keluaran.

Adapun bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat teknik ini antara lain adalah timer, pompa air, air pump, fill tube, drain tube, media tanam, polybag, penggantung polybag, dan wadah tampungan air.

Sistem ini memiliki kelebihannya sendiri. Bagi varietas tanaman yang membutuhkan banyak air, maka dengan menggunakan sistem ini bisa menghasilkan tanaman yang berkualitas. Selanjutnya, masa tanam relatif cepat sehingga bisa panen lebih cepat. Aliran air pun tergolong stabil, jadi akan lebih mudah untuk dikontrol. Selain itu, nutrisi pun lebih mudah dikontrol, karena unsur hara dan air dicampur menjadi satu pada satu tempat penampungan. Setiap tanaman bisa mendapatkan nutrisi yang sama, sehingga kualitas hasil panen pun bisa baik dengan merata.

Namun demikian, sistem instalasi hidroponik ini memiliki beberapa kelemahan. Seperti yang telah diketahui bahwa ada banyak komponen yang dibutuhkan untuk menyusunnya sehingga biayanya pun cukup besar. Sistem  ini tidak bisa dipraktekkan oleh pemula, karena tergolong rumit dan perlu adanya ilmu yang cukup. Apalagi risiko kegagalan pada instalasi ini terbilang cukup besar.

Selain itu, sistem ini bergantung pada aliran listrik pada pompa untuk bisa mengalirkan air nutrisi. Jadi apabila mati lampu, aliran air tentu akan terganggu. Dan ternyata, sistem ini cukup rentan terhadap penyakit bagi tanaman. Jika ada tanaman yang terkena penyakit, maka memungkinkan tanaman yang lain juga terkena penyakit yang sama karena tertular.

  • Deep Flow System

Sistem hidroponik ini memanfaatkan aliran nutrisi yang diberikan nonstop selama 24 jam. Dalam hal ini pipa paralon bisa dimanfaatkan kan untuk membuat rangkaian sistem hidroponik tertutup. Pipa tersebut dilubangi untuk meletakkan media tanam berupa polybag isi arang, sekam, atau kerikil.

hidroponik Deep Flow System

Pada dasarnya, cara kerja dari sistem deep flow cukup simple. Kolam penampungan atau wadah dipasangi pompa air yang bertujuan mengalirkan air di saluran irigasi. Air tersebut dipompa menuju saluran irigasi sehingga bisa menggenangi bagian akar. Sementara sisa air yang ada dialirkan menuju kolam tampungan melalui pipa pembuangan.

Jaringan listrik akan sangat mempengaruhi cara kerja dari sistem ini. Alasannya karena pompa air yang digunakan harus mengalirkan nutrisi terus-menerus kepada tanaman menggunakan bantuan timer. Bagi para pemula, teknik ini sulit untuk dilakukan, karena membutuhkan biaya besar dan pemasangannya pun cukup rumit. Selain itu juga dibutuhkan keterampilan dan wawasan yang tinggi untuk menerapkan sistem hidroponik yang satu ini.

  • Bioponic System

Mungkin bagi sebagian kecil orang sudah tidak asing lagi dengan sistem cara penanaman bioponik. Pada dasarnya, sistem bioponik merupakan gabungan penanaman hidroponik dan metode cocok tanam organik. Tujuan dari cara penanaman ini yaitu supaya bisa menghasilkan tanaman atau sayuran hidroponik yang berkualitas di lahan terbatas. Umumnya, cara bioponik ini dibuat di saluran drainase yang bertingkat. Larutan mineral akan dialirkan dari kolam penampungan bawah menuju atas.

hidroponik Bioponic System

Perlu diketahui bahwa pada sistem bioponik ini, tanaman akan mendapatkan larutan nutrisi dari bahan organik. Artinya, pupuk yang digunakan dalam pertanian ini adalah pupuk organik insektisida alami dan kompos. Bahkan seiring berjalannya waktu cara penanaman bioponik semakin banyak diminati masyarakat urban. Apalagi saat ini banyak orang yang mulai bergerak dan beralih menerapkan gaya hidup sehat.

Cara Pemeliharaan Sayuran Hidroponik

Setelah berhasil menanam sayuran hidroponik dengan membuat instalasi media tanam hidroponik, maka jangan lupa untuk merawat tanaman sehingga bisa mendapatkan hasil panen yang melimpah. Ada banyak hal yang perlu dijaga supaya sayuran hidroponik tetap tumbuh dengan subur.

Perlu diketahui bahwa jika kelembaban area tanaman tinggi, yakni lebih dari 80%, maka hal tersebut bisa memicu berkembangnya jamur patogen yang bahaya bagi tanaman. Selain itu, hal penting lainnya yang harus diperhatikan yaitu menjaga aerasi sanitasi di lingkungan hidroponik Sehingga tanaman bisa tumbuh dengan baik. Berikut ini merupakan beberapa hal yang harus diperhatikan ketika membudidayakan tanaman hidroponik.

Cara Pemeliharaan Sayuran Hidroponik

  1. Mengukur pH dan Nutrisi

Pada dasarnya, ph atau tingkat keasaman menjadi salah satu faktor penting yang harus diketahui untuk bisa mengontrol serapan unsur hara tanaman supaya tidak terjadi defisiensi. Kadar nutrisi pada larutan bisa diukur dengan TDS ( Total Dissolved Solids) dan PPM (Parts Per Millions). Hasil dari pengukuran tersebut akan menunjukkan nilai EC larutan yang sangat menentukan kecepatan metabolisme tanaman.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

Meskipun hama dan penyakit pada tanaman hidroponik tidak sebanyak tanaman yang ditanam dengan sistem konvensional, tetapi hama dan penyakit juga terkadang ada pada tanaman hidroponik. Beberapa hama yang cukup sering menyerang tanaman hidroponik antara lain adalah kutu Aphid, kutu putih, lalat pengorok daun, siput, dan semut.

Perlu diketahui bahwa jenis penyakit yang menyerang tanaman hidroponik sebenarnya kurang lebihnya sama dengan tanaman yang dibudidayakan di tanah, hanya saja intensitas dan jumlahnya berbeda. Secara umum penyakit pada tanaman bisa disebabkan karena jamur, virus, dan bakteri yang ditularkan melalui vektor serangga atau alat-alat tanam yang digunakan yang telah terkontaminasi. Sementara pada tanaman hidroponik sendiri, gulma bukanlah masalah karena teknik hidroponik sebenarnya meminimalisasi tumbuhnya gulma.

  1. Penyulaman dan Pengontrolan Instalasi

Umumnya, penyulaman pada sayuran hidroponik dilakukan saat usia tanaman 15 HST. Setelah melakukan penyulaman, selanjutnya adalah mengontrol instalasi. Perlu diketahui bahwa instalasi yang digunakan untuk menanam tanaman hidroponik wajib untuk dikontrol secara rutin. Apalagi ada cukup banyak jenis instalasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Setiap sistem instalasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, begitu pula pada peralatan yang digunakan.

Jika pipa dan pompa yang digunakan pada instalasi tidak lancar, maka hal ini akan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Sementara itu, jika listrik dan air tidak tersedia, maka bisa menyebabkan kegagalan pada budidaya yang dilakukan.

  1. Panen dan Pasca Panen

Meskipun sudah berhasil menanam sayuran hidroponik, tetapi alangkah baiknya untuk memperhatikan pula proses panen dan pasca panen. Bagaimanapun juga hal ini merupakan bagian dari cara pemeliharaan tanaman hidroponik.

Setiap komoditas mempunyai umur panen yang berbeda-beda, sehingga hal ini perlu dipahami dengan baik sebelum melakukan budidaya hidroponik. Dengan demikian maka perlakukan panen di setiap varietas tanaman juga tentunya berbeda.

Dalam hal skala bisnis yang besar, maka akan sangat penting untuk memperhatikan waktu panen dan penanganan pasca panen. Hal ini bertujuan supaya setelah panen, maka tetap bisa reproduksi sayuran hidroponik untuk kelanjutan bisnis. Akan lebih baik jika memperhatikan perawatan pasca panen supaya selanjutnya bisa panen kembali. Dari pada harus mengulang lagi dari awal karena kesalahan penanganan pasca panen.

Dapat disimpulkan bahwa sayuran hidroponik saat ini semakin banyak dibudidayakan oleh masyarakat luas, baik untuk konsumsi pribadi maupun bisnis. Ada banyak keuntungan yang didapatkan apabila menggunakan sistem media tanam hidroponik, sehingga semakin banyak yang tertarik. Namun demikian, meskipun menyuguhkan berbagai kemudahan, mulai dari persiapan, pembuatan instalasi, hingga pemeliharaan, tetapi teknis pelaksanaan budidaya hidroponik harus benar-benar dipahami dengan baik. Dengan demikian maka bisa menghasilkan sayuran yang berkualitas.

8 tanggapan pada “Teknik Budidaya Tanaman dengan Media Tanam Hidroponik”

  1. sangat informatif sekali artikelnya. bisa menjadi referensi yang bagus untuk memulai teknik menanam tanaman dengan metode hidroponik. informasinya pun sangat lengkap dari mulai pengenalan metode hidroponik sampai dengan tanaman yang cocok diaplikasikan teknik hidroponik. sangat membantu sekali bagi saya yang awam soal teknik ini. terimakasih

  2. Inilah yang saya cari!!! penjelasan rinci tentang teknik hidroponik. saya memang berencana menanam kangkung dengan cara hidroponik dan sedang mencari referensi artikel yang menjelaskan tentang teknik hidroponik.

  3. artikel ini sangat informatif. apa yang ada didalam artikel ini dapat dijadikan referensi bagi yang ingin memulai teknik hidroponik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *